Kali ini bude -si pemalas posting- mau cerita sedikit tentang kisah tahun lalu. Bukan ga bisa move on sih tapi pengen aja sharing pengalaman *tsaaahhh*. Dan ini juga bukan kisah sedih di hari Jumat 10 Februari 2012 lalu karena tergantung persepsi orang yang baca postingan ini sih, haha. Oke daripada banyak omong mending langsung ke kisahnya.
*flashback di Jumat, 10 Februari 2012*
-Bagaimana semua ini bermula-
Hari ini entah kenapa aku males banget beranjak. Pelajaran hukum bisnis yang dibayangi banyak tugas baik yang harus dikumpul ataupun mau dikasih nantinya bikin makin males. Tapi kali ini beda, malesnya bukan karena hal itu aja, kayaknya memilih mending dikosan. Dan bener aja setelah jumatan hujan besar banget. Aku yang masuk kuliah pukul 13.30 cuma bisa melenguh pelan mengingat seragam sehari-hari harus kudu wajib dipadankan dengan heels. Huaaahhh akan tambah bawaan nih, ga mungkin juga becek-becekan pake heels. Jadi aku pilih nanti pake sandal jepit aja.
Aku sebenernya siap dari jam 12.00 dan selesai solat langsung siap-siap ngampus. Cuma yaa hati ini tetep males ke kampusnya. Akhirnya aku memilih untuk sms ke tiga orang seolah mau minta persetujuan untuk ga kuliah *eehh*. Becanda deng, aku cuma mau curhat aja pengen kuliah tapi males tambah hujan deres yang tampaknya awet diluar sana. Aku sms ke mama, Puji dan Jenong. Puji ngewanti-wanti untuk bawa payung. Sedangkan mama sama Jenong belum bales. Tapi ada Laras -yang ternyata sehati males berangkat juga- sms ngasih tau dia belum berangkat dan ntar-ntaran aja berangkatnya.
Aku memantapkan hati untuk berangkat. Pake sandal, seragam batik, tas ransel batik -juga- sama payung lucu warna ungu *harus banget gitu ngasih tau warnanya*.  Aku yang biasanya bawa laptop menjadi enggan bawa dan membiarkannya tergeletak di lantai. Hari ini cuma bawa binder, dompet, headset, sama heels di ransel. Dan turunlah aku dari kosan dengan semangat dibawah 0 derajat celcius. Bapak kosan yang kebetulan pas-pasan sama aku nanya gini : "Neng mau kuliah? Atuh hujan gini, didepan banjir." Aku cuma bisa cengengesan aja bilang "Iyah" dengan hati bilang "Engga pengen kuliaaaahhh :( ." Bapak kosan ngejawab : "Yauda hati-hati, didepan sana jalanannya banjir." Dan aku mengindahkan firasat serta wejangan itu dengan menganggap kuliah itu penting. Hujan aja ga bisa mengalahkan tekad ini *beeuuhh*.
Lalu aku berjalan keluar gang. Voilaaa ini jalan raya apa sungai? Jalanan Sukajadi dan Setiabudhi mendadak jadi sungai gini. Aku naik angkot dan celingukan. Gimana nanti didepan kampus? Aku tahu banget kampus juga pasti jalan rayanya tergenang. Huhhh terlanjur kepalang berangkat juga kan. Di sebrang borma aku lihat ada motor kebawa air bah itu sampe tiga motor dengan pengendaranya yang berusaha sekuat tenaga mempertahankan motornya dan supaya ga ngikut hanyut juga. Lalu entah kenapa aku nyalain data paket terus buka twitter dan nge-DM @infobdg untuk bilang ke #cuacabdg kalau tweeps harus hati-hati di Setiabudhi soalnya ada 3 motor hanyut. Ada notifikasi sms masuk tapi aku memilih membaca nanti. Jadi aku masukin hape Young ini ke saku luar ransel aku.
Seperti biasa aku turun di sebrang kampus. Banjirnya wuussshhh banget lah. Tapi ku lihat Wiwi -temen sekelasku- berhasil nyebrang disana. Hmm kenapa aku juga ga bisa, mari dicoba aja. Toh ini sudah hampir 13.30 daripada terlambat kena semprot dan ga bisa ikut kuis kan berabe. Lalu huupp aku menerobos nyebrang.
-Saat melangkah kurang ucap Bismillah, saat berdoa dalam keadaan susah payah-
Pas nyebrang setengah jalan aku baru sadar ini deres banget aliran "sungai" dadakannya. Tinggi airnya sampe selutut, debit airnya udah kaya bah -emm- maksudnya mungkin kek banjir bandang kali yah. Dan aku cukup kesulitan karena harus angkat rok sambil megang payung. Ah hampir lupa, karena aku bosan, dimulutku ada lolipop yang lagi dikemut. Aku melewati jalan raya sungai dadakan itu dengan susah payah. Tinggal dua langkah lagi aku naik ke trotoar yang ga ikut tergenang air. Namun sayangnya sandal jepit yang kupakai keselip saat mau melangkah. Sandalku hanyut sebelah. Tapi saat aku melangkah lagi, aku lah yang hanyut berikutnya.
Tell me stupid. Yeah Marya a.k.a Bude ini memang terlalu nekat. Menyebrang sungai pake sandal. Ah daripada nyalahin yang udah berlalu mending balik ke keadaan aku saat itu.
Pas ku lihat sandalku hanyut, aku jadi ingin cepat sampai ke trotoar itu dengan langkah besar. Dan uupppsss aku terpeleset jatuh. Aku tidak jatuh di aspal, tapi digenangan air bah yang menutupi aspal. Dengan mudahnya arus itu membawa tubuh ini yang jatuh dalam posisi duduk. Aku terus terseret. Dalam hitungan kurang dari 3 detik, badanku menabrak mobil yang parkir dipinggir jalan. Ya tubuhku nabrak mobil dong. Kemudian 2 detik berikutnya dunia tidak lagi dalam pandanganku.
Oh bukan, aku belum meninggal. Aku masuk ke kolong mobil yang ku tabrak tadi. Hal itu kusadari saat badan ini ga bisa gerak. Membuka mata tapi air bah itu mengarung deras depan mata, aku dalam keadaan tenggelam dalam kolong mobil, oh really. Ku dengar suara arus menyeramkan yang begitu hebohnya menekan gendang telinga. Aku masih mengemut lollypop, aku tak punya ruang untuk bernapas -ingat kan tadi ku bilang selutut banjirnya dan well aku dikolong mobil- maka aku buang permen itu. Aku menggembungkan pipi berharap bisa menyisakan nafas hingga aku bisa keluar dari mobil ini.
Sudah berapa lama waktu berlalu diluar sana? Adakah yang melihatku? Karena arusnya kebawah, aku ga mempunyai daya untuk melawan arus dan keluar dari kolong ini. Aku mencoba peruntungan lain dengan menyisipkan tubuhku untuk terlentang agar aku terbawa arus melewati mobil ini meskipun dengan resiko aku tertabrak kendaraan lainnya atau hanyut lebih jauh lagi. Ah aku tak tahu pasti. Aku harus mengumpulkan tenaga untuk mengangkat tubuh ini. Tapi entah bagian mana ditubuhku yang tersangkut sehingga rasanya sulit sekali.
"Sudah berapa lama aku berusaha? Aku tak suka gelap. Aku tak suka sempit. Semua ini menghimpitku. Aku tak punya ruang. Aku tak bisa leluasa bernafas. Aku hanya ingin kuliah. Kenapa begitu sulit menyebrang jalan? Mengapa niatku untuk belajar malah jadi seperti ini."
Batinku tak hentinya bertanya, bersuara mengungkapkan apa yang kurasa dan ingin teriak rasanya.
" Tahu begitu dalam 5 detik tadi sebelum aku stuck disini aku teriak yah. Bagaimana jika tak ada yang menyadari. Ah tentu saja siapa yang sadar! Duh bodohnya aku. Apa mau dikata. Nunggu banjir ini reda sampai jam berapa, mungkinkah nafasku cukup?"
Tanganku terus menggapai entah apapun entah kemanapun. Aku hanya ingin mencari titik terang. Titik kepastian. Lalu perdebatan batin mencapai ujungnya.
"Ya Allah entah hamba harus bagaimana. Namun jika memang aku sampai disini, cepat habiskan nafas ini. Tapi kalau lanjut, biarkan seseorang datang." Dan aku menangis dalam hati membaca syahadat. Baru ku tutup syahadat itu, tanganku ada yang menggenggam! Aku dipegang oleh seseorang. Oh bolehkah aku berharap? Benarkah ini tangan manusia? *well saat itu otakku hanya mampu berpikir semanis itu -.- hehe*
Tak lama tangan itu terlepas. Aku mencari. Tak rela tangan itu pergi. Akhirnya genggaman itu datang lagi. Kali ini menarikku dengan sangat kuat. Aku terbebas. Iya bebas. Aku melihat langit biru serta nafasku yang kembali bisa ku hirup.
Aku histeris.
Bisa apa lagi? Aku bahagia masih hidup. Aku bahagia selamat. Aku ketakutan. Aku masih tak menyangka. Aku merasa ini keajaiban. Berapa lama aku terjebak? Mengapa banyak sekali suara hatiku didalam sana.
Pertama kali ku lihat banyak orang mengelilingiku. Berisik. Berbisik. Seorang ibu pun histeris. Laura disampingku menanyakan keadaanku. Ah ada temen sekelasku disini. Senang sekali mendengar suara Ola. Aku menangis. Aku mencari mana kerudung dan tas ku. Tas ransel sama kerudungku ikut hanyut? Ya ampun kerudung. Hape. Dompet. Oke banyak sekali pikiranku. Orang-orang memintaku tenang dan jangan memikirkan itu dulu. Ah lalu mikirin apa. Tanpa Young bagaimana bisa kasih tau orangtuaku dan Jenong dan Puji atau Laras atau pihak kampus. Astaga banyak yang harus tau? Ngomong aja belum nyambung gini.
Mereka bilang aku harus tenang. Aku mending mikirin diri sendiri dulu, gimana keadaannya. Hmm sakit. Sesak. Ngilu. Itulah yang ku rasa tapi belum bisa ngomong ke mereka. Hanya dalam hatiku aja.
Sekilas banyak suara masuk karena mereka asik menceritakan sudut pandang mereka. Yang ku tangkap seperti ini :
1. Seorang ibu dan  anaknya -yang seusia denganku sepertinya- melihatku jatuh saat menyebrang kemudian dia meminta pertolongan orang-orang yang ngumpul di bengkel.
2. Laura a.k.a Ola -temen sekelasku- sudah melihatku menyebrang dan kaget banget aku jatuh terus hilang ditelan air bah itu. Tanpa pikir panjang Ola menyebrang untuk menolongku. Dan dia menangis merasa lebih baik Ola duluan yang mati daripada aku. Ya Allah Ola hatinya mulia banget. Semoga engkau berikan dia kemudahan dalam urusannya (˘ʃƪ˘)
3. Orang bengkel nahan Ola untuk ga nekat nyebrang. Orang-orang itulah yang menarikku dan menggendongku. Meskipun yang aku tahu tangan pertama yang menggenggam tangan aku adalah Ola. *Thanks God, Lopyupul Ola*.
4. Ada beberapa anak sekelasku disana. Anin dan Risa. Meskipun aku ga tau mereka dimananya.
Seseorang memberiku minum agar aku tenang. Yang belakangan ku tahu itu Risa. Tapi dilemma banget disuruh *maaf* muntah saat itu juga. Baru mau tanya kenapa eh ibu -yg tadi histeris- bilang pasti ketelen itu air bahnya. Hah, apah? Omigoooddd saat itu juga aku berharap bisa jakpot. Air apaan itu yang ketelen ┭┮_┭┮ . Ibu itu juga ngajak aku ke kosan anaknya. Aku dijanjiin sama orang bengkel itu untuk dicariin tasnya. Ah iya kerudungku ketemu jadi aku pake asal aja. Aku, Ola, ibu itu dan anaknya ngajak aku jalan dan aku dipapah *engga dimamah yah -.-*
Kosannya nyelip dan dilantai dua. Uh oh aku tau kakiku ga beres saat naik tangga. Huaahh ini pasti ada luka atau keseleo deh. Sesampainya diatas aku diajak masuk dan disuruh mandi. Aku dipinjami baju, celana bahkan daleman :3 Aku ke kamar mandi bawa semua itu dan jalan perlahan.
Baru masuk kamar mandi dan ngunci pintu, Ola ngetuk-ngetuk. Aku keluar dengan ekspresi ada apa. Ola nyengir dan bilang kalau ada apa-apa teriak aja, jangan sampe aku pingsan didalem kamar mandi. Woaahh baiknya Ola, aku pastiin aja aku bakalan baik-baik didalem. Dan proses mandinya dimulai *heleeeh leboy*
Buka baju aja setengah mati. Susah dan lengket dan kotor dan ribet dan sakit. Eaaa banyak gitu dan-nya. Baru sekali guyur aku liat air basuhannya item kelam. Oh God seremnya. Siraman kedua ada bungkus kopi jatuh dari rambutku. Astaga -.- Basuhan ketiga ada daun-daun sama ranting kecil gitu entah darimananya badan aku deh. Ga sanggup liat lagi, aku fokus untuk bebersih. Rambut kusut banget dan keset karena air bah itu. Yang kelihatan di mata sih dengkul ini luka besot dan tangan juga. Kepala pusing banget. Dan sayangnya aku ga berhasil jakpot. Aku buru-buru menyelesaikan bebersih ini.
Keluar dari kamar mandi aku lihat Elvo dan David yang baru naik tangga memberondong pertanyaan banyak banget. Aku ngerasa kayak artis dikejar wartawan tanpa kamera dan mic :p Aku mau bercerita tapi mulut sama otak belum ngeklik jadi aku cuma nyengir miris liat mereka. Masuk ke ruangan aku disuruh telpon orangtua karena luka ini tentu aja harus diperiksa kan. Hadeeuuuhhh aku lupa kartu asuransi belum dibawa. Terus mau kerumah sakit/klinik bayarnya pake apaan? Aku cuma punya -umm- baju kotor yah. Sisanya hanyut, huwaaahh. Ola nyodorin hapenya supaya aku telpon orang rumah. Karena aku anak baik, yang aku inget cuma nomor mama aja -padahal nomor hape papa angka cantik- jadi aku klik dial supaya cepet tersambung. Kalimat pertama untuk ngasih tau nyokap adalah : "Ma, Ulfah kecelakaan." Cumaaaa ngomong gitu aja aku nangis lagi. Alhasil Ola yang ngomong sama emak kronologinya dan aku diwejangin ini itu sambil disuruh ke klinik dan minta kompensasi. Dosen aku juga telpon. Beliau ga nyangka dan nyuruh aku ke dokter aja biar nanti diganti pihak kampus. Iyah, aku harus lekas ke dokter.
-administrasi itu sulit tanpa tau keadaanku jauh lebih sulit-
Aku bersiap dengan tidak rela tidak ikhlas. Aku berterimakasih sangaaat banyak pada Ester dan Ibunya -aku baru tau nama ibu itu dan anaknya- karena telah menolongku, melihatku dan meminjami baju segala. Tapiiii baju lengan pendek dan celana pendek. Uh oh like a crispy joke. Budeee mana kerudungmu, manaaa huaaahhhh.
Aku masih limbung. Yang aku tahu Ola, Elvo, David dan Agung ada disana saat aku turun dari kosan Ester. Entah ini uang siapa, aku menggenggam 100 ribu dalam tanganku untuk berobat. Aku diantar Agung naik motor karena klinik terdekat hanya berjarak kurang dari 1 kilometer. Aku sampe disana dengan kondisi sulit berjalan.
Aku langsung menghampiri frontliner Klinik AN (AN itu singkatan, dan jangan tanya kepanjangannya apa, ceritanya disamarkan) yang dijaga perempuan hijab. Aku menjelaskan aku habis kecelakaan sehingga ga ada kartu apapun dalam peganganku. Ditambah kartu asuransiku ganti dari IH ke AdM (disamarkan, okeeyy). Mereka bilang kartu asuransi AdM itu kayak kartu kredit jadi diperlukan juga kehadiran kartunya. Huh aku hanya ingin segera ditangani, bayar aja juga ga masalah. Kepala ini rasanya berat. Aku mengiyakan saat mereka menawariku untuk cash lalu aku disuruh menunggu sampai dipanggil giliranku.
Lama.
Iya aku lamaaa sekali menunggu. Aku meminjam hape Agung untuk sms Mama dan Jenong alias Fajar. Khusus untuk Jenong kalau dia ga kuliah kuminta untuk datang. Ternyata mama ngasih nomor Agung ke papa. Aku hanya mendengar kalimat yang sama : "Kok bisa?" . Mama juga tadi pas pertama kali ku telpon bilang kek gitu. Aku mana tahu kenapa, yang ku tahu itu semua sudah terjadi *sigh*.
Aku berkali-kali marahin Agung karena mbaknya ga kunjung manggil aku. Bahkan ada seorang bapak yang luka baru datang langsung masuk. Aku setengah terisak bilang ke Agung : "Gue juga kecelakaan gung, kok ga diduluin. Kepala gue harus luka dulu yah?". Hufft mau bagaimana lagi. Luka yang terlihat dariku hanya lecet kecil tangan dan kaki serta luka cukup besar di dengkul. Hanya saja kepalaku pusing sekali. Agung bilang karena aku menelan banyak air tapi belum jakpot dan teori lainnya yang hanya masuk selintas dalam otakku. Aku ingin segera mengakhiri semua ini lalu tidur. Aku rasa tidur pilihan tepat untuk beristirahat.
Aku ga nyaman. Rasanya seperti tak pakai baju. Hemmm aku memang pakai baju tapi lengan pendek. Aku pakai celana tapi celana pendek.  Aku sudah tak ingat lagi kapan aku memakai baju setelan kek gini untuk keluar rumah. Punya celana pendek kayak gini aja kagak. Aku mau pinjem jas Agung tapi katanya udah lama belom dicuci. Aaaakkkkk.
Setelah lumutan dan tumbuh jamur dikepalaku barulah aku masuk. Agung yang kuminta nemenin juga masuk. Aku bilang ke dokternya ini itu. Dia kaget. Tidak percaya. Dan aku dibawanya keruang pembedahan atau apapun itulah yah. Agung kusuruh tunggu diluar. Ya kali dia mau liat aku "dibedah". Dokternya bilang sesuatu yang menyesak dihati. "Duh tau kamu kecelakaan mah langsung masuk aja. Udah parah gini juga. Haduh liat ini punggung kamu biru semua, memar. Lukanya dibersihin dulu yah." Dalam hati yang paling jujur aku udah membela diri dengan bilang "Gue juga bilang sama orang yang jaga didepan tapi entah ditulikan telinganya atau disangkanya gue nipu kali makanya gue nunggu sampe jamuran!" Huhuhu, miris yah administrasinya. Ohya gimana ni badan kaga lebam, kepentok mobil dan terombang ambing disungai dadakan itu.
Selesai meriksa ini dan itu dan eta dan ieu maka diwejanginlah aku sama berbagai hal. Dari do and don't juga obat-obat yang akan dikasih. Diusahakan jakpot. Yah, iyah, yah well mau berapa lama air kotor ini ku pendem diperut (╥﹏╥)
Aku dapat cobaan berikutnya. Uang cashnya ga sebanding sama tagihannya. Untuk sekedar bersihin luka pake alkohol dan diwejangin itu aku habis 150ribu. Untuk di alkoholin luka aja 50 ribu. Tau gitu bersihin sendiri deh, huwaaahhh. Jadi kutangguhkan aja obatnya. Agung sibuk sms minjem uang. Aku tanya Jenong bawa uang apa engga karena aku akan minjem dia. Syukurnya dia bawa tapi dia terjebak macet. Aku sempet menyerah pinjem jas Agung karena ini sungguh risih pakaiannya. Untunglah Fajar datang dan aku pinjem jaket dia. Wajahnya lega meskipun sedih jelas kelihatan dimatanya. Fajar ngusap wajahku pelan tanpa ngomong apa-apa. Aku tahu aku pasti bikin khawatir. Aku selesaikan pembayaran dan nunggu temen sekelas aku datang karena mereka telpon katanya mau ke klinik nyusul.
Entah siapa aja yang nyusul tapi rusuhnya ampuuun dah sampe ditegor satpam. Tadi sih pas telpon, Wiwi yang ngomong sama aku. Katanya Laras sewot gegara aku nekat. Lucunya Una bilang didepan kampus ada yang larut bukannya bilang hanyut. Anak-anak yang denger tadinya ketawa ngakak tapi pas dikabarin bahwa makhluk yang larut itu adalah aku maka tawa itu lenyap. Bahkan dosen killer yang ga ada tolerirnya pun memberi dispensasi untukku dan mengadakan doa bersama. God, terharu banget-banget aku. Aku punya banyak orang yang sayang dan peduli sama aku.
Aku pulang naik mobil Mami. Mami, Aku, Fajar, Ola dan entah siapa lagi aku ga merhatiin bertolak ke kosan. Bahkan sesampainya dikamar aku masih belum tahu siapa aja yang berada disana nemenin aku. Aku diberitahu kalau tas ranselku ketemu. Aku bersyukur. Karena dompet aku pasti selamat, ku taruh dompet itu di dalam dan direstleting. Beda dengan Young. Entah dia masih didalam tas atau merangsek keluar. Sedih rasanya. Tapi sedih itu tenggelam dalam rasa sakit seluruh badan ini.
-Akhirnyaaaa, tapi belum berakhir-
Aku dipaksa makan entah makan apa dan entah saat kapan. Setelahnya aku minum obat dan jakpot. Horeeee! Sepertinya agak enteng badan ini. Aku sakit kepala hebat. Sayangnya malam itu Fajar dan yang lain pulang. Aku mengurusi pilek air wabah itu semaleman. Tissue dimana-mana. Ini bukan pilek biasa pastinya. Aku harus sesegera mungkin berobat. Dan ingatanku campur aduk ga bisa mengurutkan mana yang lebih dulu atau terjadi belakangan.
Aku mendapati Fajar dan Wiwi yang rutin datang. Sementara waktu aku pakai nomor three dengan hape pinjeman. Makasih Arya udah minjemin. Wiwi marah karena orang penjual nasi Padang yang nyimpen tas aku enggan ngasih tas aku. Kabar baiknya hapeku masih ada di tas itu. Heran sih sebenernya. Padahal berpeluang nyeplos dan hanyut itu Young. Ah kau memang setia menemani Young meskipun kita sekarang jauhan :( *oke mulai leboy*
Adik kelasku juga datang, dia di BBM mommy coba buat liatin keadaan aku. Huuufff, muka Fajar seketika itu keruh. Belum lagi dia, dan wiwi dalam waktu yang berbeda sepertinya ribut sama orang nasi padang itu untuk ngambil tas. Yang ku tangkap adalah aku harus kesana ngambil. Oh yeah, if I can lah yah. Bangun dari kasur aja lieng-lieng. Dan adik kelas itu datang lagi setelah aku diminta mommy untuk pijit. Dia diutus untuk memastikan aku udah pijit apa belom, misalkan belum mau dianter, hmmmm -.- Lagi-lagi aku ga enak sama Jenong. Dia udah sabar banget nemenin aku pijit. Padahal lumayan lama dan aku hampir nangis karena sakiiitttt *bersiap terisak*.
-aku punya pacar terbaik dengan kasih sayang paling unik-
Selama aku sakit, Jenong siap jagain dan perhatiin aku. Dia beliin makanan yang aku suka, karena aku nolak makan dengan alasan ga enak dan rasanya pait. Bagaimana mungkin aku nolak makanan yang sehari-harinya aku kagumi. Hahaha lebay banget bude -.- Beberapa kali dia buru-buru abisin makanan untuk suapin aku. Aku juga dikompresin badannya sama dia buat nurunin panas yang terus-terusan naik. Bahkan di setengah ngantuknya pun dia mau ngusap-ngusap aku yang ga bisa tidur nyenyak.
Yang paling aku syukuri dari semua ini dia mencoba tenang. Aku tahu dia khawatir. Itu jelas dari ucapannya yang bilang “Kamu jangan sakit dong Ma, cepet sembuh lagi”. Aku ga enak hati untuk ngomong apa yang saat itu aku rasain. Lemes tak terkira aja pokoknya. Malahan dari aku jatuh, aku terus-terusan pilek dengan warna kelam. Yah, air wabah itu kali yah mengendap dihidung *uh berikan aku udara bersih* Yang pada akhirnya aku mimisan terus. Sekali waktu Jenong tau aku mimisan karena aku anteng duduk ambang pintu kamar mandi. Dia bawain aku tissue dan duduk disamping aku padahal tadinya aku yakin dia tiduran kelelahan abis kuliah ditambah rawat aku juga.
Sekali lagi kata-katanya muncul : “Kamu sehat dong sayang”, saat itu juga aku cuma bisa diem. Dulu pernah dia bilang mending pindahin ke dia aja sakitnya. Hueeeehhh, aku jadi sedih.
-next miss understanding here-
Sepertinya yang ku lakukan berikutnya adalah mengambil kartu asuransi yang dititipkan ke Sammy, temen sepupuku yang juga temen kampus beda prodi denganku. Selesai ambil kartu itu aku diantar Jenong ke klinik AN lagi. Malang nasibku aku harus menceritakan ulang ke dokter kronologinya. Soalnya dokternya beda lagi, dan dokter inilah yang sering memeriksaku selain dokter Nurul. Namanya dokter Yayuk. Aku dianjurkan ke rumah sakit Ad untuk rontgen kepala. Dibuatlah surat pengantar ke RS tersebut.
Apa mau dikata Jenong punya urusan lain dikampusnya jadi aku ke RS itu sendiri dan bawa 50 ribu. Sebenarnya itu sudah sore menjelang senja, dan aku datang sendirian tanpa tau harus kemana. Aku tanya ke satpam harus kemana, eh dia malah tanya balik. “Emang yang sakit siapa?” Dengan reflek aku nunjuk diri sendiri. Biar deh mau ngomong apa itu satpam. Aku ke tempat pendaftaran dengan kisah klasik (maksudnya kronologi kisah hanyutnya) yang harus ku jelaskan.
Aku harus buat kartu rumah sakit dulu berdasarkan ktp atau tanda pengenal. Biasanya aku suka, karena aku senang punya kartu atas namaku, ga peduli walau itu kartu RS atau sekedar kartu anti narkoba. Tapi kali ini aku hanya punya kartu asuransi dan surat pengantar rontgen. Aku merasa tenggorokanku seret seketika pas bapak adminnya nanya, aku masih inget nama dan orangtua aku kan. Memangnya air wabah yang sempet ketelen itu bisa bikin aku amnesia? Aku ngisi biodata dengan kecut. Kapan ini akan berakhir? Lalu miss understanding disinilah yang paling parah. Katanya aku harus dipastiin dulu perlu rontgen apa engga, jadi aku harus ke UGD buat meriksanya. Soalnya ga bisa langsung rontgen tanpa pengantar dokter. Lah itu surat yang aku bawa disangka surat cinta kali yah, huhuhu.
Masih dengan sisa tenaga yang aku punya, aku ke UDGnya. Nyari ruangan sendiri. Nyari dokternya sendiri. Ke kasur untuk tunggu dokter atau susternya juga sendirian. Hikss. Lalu dokter itu datang, siap dengerin kisah klasik dariku. Yang aku bisa pastiin 199% dia ga percaya dan menganggap aku berimajinasi aja. Ditambah kondisiku yang panas tinggi. Dia pasti sangka aku berkhayal saking panasnya tubuhku. Aku hanya diam. Itulah kesalahanku, aku hanya diam. Meskipun terucap juga ke dokter itu aku datang disuruh rontgen padahal. Dokter saranin aku untuk cek darah. Aku iyain aja deh daripada repot. Suster datang, ambil darah, lalu aku disuruh nunggu.
Menunggu adalah hal yang kurang menyenangkan.
Setuju tidak pernyataanku tentang menunggu? Aku harus tergeletak lemah. Mendengar sebelah entah kanan kiri atau depan yang lagi sakit, ada yang kecelakaan dan dapat perhatian intens dari si dokter (bikin aku iri dan ngenes, soalnya aku merasa diabaikan), ada yang stroke, ada yang sakit entah apa tapi dia bisa telponan dengan saudaranya. Suara kerabat atau keluarga yang khawatir dan menemani si sakit itu. Ah ruangan aku berada sepi. Tidak ada satupun orang. Sinyal hapeku drop. Sms ga bisa, nelpon apalagi. Aku mau ditemenin padahal. Minimal sms¬ sedih rasanya sendiri. Mana ga lama aku mimisan. Jadi aku hambat pake tangan, beranjak keluar dan tanya suster dimana kamar mandi. Setelah ditunjukin aku hanya membersihkan diri. Suster itu tanya aku habis apa dan aku bilang mimisan. Dan you know what, mereka lanjut ngerumpi lagi, tanpa ada satupun yang memapahku. Bukannya minta atau kepengen sih. Tapi apa pantas?
Setelah lama menunggu, dokter masuk dan bilang aku tipes. Hah, aku ga salah denger tuh? Oh oke, mungkin kondisiku lemah dan membuatku kena tipes. Tapi peliiissshh deh, aku Cuma mau periksa kepalaku untuk di rontgen. Kayaknya denger dokter ngomong tipes, perlakuannya yang cuek, dan suster yang ngerumpi, aku bertanya apakah otakku masih sehat. Hatiku mungkin perlu juga di rontgen. Aaakkkkkk. Dokter minta aku untuk ke tempat pendaftaran tadi untuk melakukan registrasi rawat inap. Aku makin melongo. Niatnya mau apa, eh disuruhnya apa.
Lagi lagi aku jalan ke tempat bapak yang tadi, sendirian, langkah semakin gontai, lelah dengan semuanya. Bapak itu bersikeras untuk aku di rawat. Aku hanya menggeleng. Untuk apa? Toh kalaupun aku tipes, apa iya aku ga sakit hati setelah semua ini. Dan pertimbanganku selanjutnya, apa mampu aku bayar. Ini aja aku kena selisih entah apa jadi aku bayar 50ribu yang artinya aku ga megang uang satu sen pun lagi. Berikutnya, apa ada yang bakal nemenin. Sakit sendirian itu menyedihkan. Aku ga mungkin ganggu temen dan jenong karena kuliah masih berlangsung dan aku ga mau manja.
Aku memelas minta pulang. Aku akan ambil obat yang harus aku ambil. Aku dikasih surat untuk ijin sekolah 4 hari. Oh god, itu namanya aku libur sampe jumat yang bisa diperjelas lagi bahwa aku ga masuk seminggu. Ah ampuuuun. Jumat itu kan si dosen killer. Aku kan harus masuk, kalau ga ikut kuis mending aku keluar kelas karena percuma ga akan dilulusin beliau. Bapak itu maksa aku istirahat atau piihannya aku dirawat. Dia bilang tipes itu begini begitu. Astagaaaa. Aku udah sakit pake diancem, ditakut-takutin pula. Hih, sedih!
Aku pulang, sebelumnya aku telpon siapapun yang bisa jemput. Uangku habis tak bersisa. Tak peduli mau makan apa untuk minum obat ini, aku hanya mau pulang. Dari banyak orang yang ku telpon, hanya Farrel yang bisa dan bersedia. Thanks God, You save me with him. Aku nunggu Farrel dengan gelisah. Dingin menusuk, habis gerimis disini. Tak lama dia datang dan aku menjawab sekenanya dan seperlunya serta memberinya surat sakitku.
-Simpelnya, dia hanya mau berniat baik-
Aku udah bisa beraktivitas lagi dan kuliah kayak biasanya. Aku memutuskan ke rumah makan padang itu bareng Elvo sama Wiwi. Aku disambut dengan tatatpan yang kurang ramah. Seorang bapak keluar bawa tasku. Lusuh. Kumel. Itulah bentuknya sekarang. Salah satu talinya putus, wajar dia terlepas dari gamblokku saat hanyut. Bapak itu menjelaskan panjang lebar tanpa jeda. “Saya ga minta apa-apa tapi neng ini (nunjuk wiwi) kan yah dateng-dateng nanya tas sama hape. Mana saya tahu di tas itu ada semua itu. Belum lagi ada cowok (si adik kelas itu) datang malam-malam bawa massa minta tas. Saya Cuma mau tau gimana keadaan neng. Ga bermaksud apa-apa. Tapi ditodong kayak gitu siapa juga yang ga kesel.” Aku lihat wiwi raut ekspresinya berubah. Jelas dia emosi saat itu. Aku hanya bisa diam. Mereka perhatian sama aku, bahkan Fajar juga tadinya mau ikut campur. Belum lagi aku juga rewel tentang Young.
Aku periksa semuanya. Masih lengkap. Berbau. Berlumur lumpur tanah dan sampah. Aku memilih membongkarnya setelah keluar dari warung padang ini. Aku dan yang lain memilih duduk depan indomaret. Benar saja, wiwi meluap, dia kesal, dia mau menangis. Aku menenangkannya. Aku mau berterimakasih padanya. Makasih banyak wiw. Untunglah Elvo bisa menenangkannya. Aku mengecek tas setelah situasi mereda. Heelsku hancur, kerendem ga dijemur dan tertutup, aaaahhhh baunya kubenci. Itu bau air wabah. Aku pusing. Young tewas. Aku harus ke SSC ini sih. Dan diompetku, iiuuuh. Aku hanya ambil beberapa kartu dan merelakan foto hancur, mengambil beberapa rupiah yang tersisa. Case hari ini selesai. Dia hanya mau berbuat baik kan?
-Membetulkan Young, gadget yang ku anggap teman setia-
Aku punya satu masalah lagi. Young mati, dia harus ke SSC. Daripada nyusun skenario biar dapet asuransi yang masih dimiliki Young, mending jujur dia abis berenang disungai dan minta dibetulin. Aku ke SSC sama Jenong. Kulihat Young dibongkar, disetrum, dibersihin. Aku diminta tunggu satu jam. Ah mending jalan-jalan dulu sama Jenong. Sekalian pan, mumpung diluar hehe. Kita makan siang sama-sama dan dia kelihatannya seneng aku udah kayak biasanya. Meskipun sekarang aku berubah, memilih ga kuliah kalau hujan deras, dan ga suka sama bunyi air yang mengalir deras serta bau air wabah itu.
Kita balik ke SSC setelah satu jam kemudian. Aku lihat young nyala. Bersih. Tanpa aplikasi. Tanpa SD Card (karena itu satu-satunya yang hilang, mungkin diambil orang padang itu, yakali sd card copot sendiri, apalagi young pake pelindung). Tanpa gallery. Tanpa sms yang di save. Aku merengek kecil ke Fajar dengan muka yang aku yakini engga banget. Dia ketawa liiat aku kayak gitu. Dia usap kepala aku dan bilang “Tenang aja Ma, nanti kita foto-foto lagi. Aku sms lagi yang kamu save-in.” Aku ngesave banyak loh, dari tahun 2011 padahal, hueeehhh. Jenong ajak aku ke bawah (SSC di lantai 3 kalau ga salah), beli SD card. Sedangkan untuk headset aku dipinjaminnya. Sekali lagi, aku bersyukur punya semua ini. Punya pacar yang dan gadget yang sama-sama setia. Buktinya kita sama-sama restart, aku dari pola pikirku yang mungkin suka menyepelekan detik yang berlalu tanpa tahu betapa berharga tiap detiknya. Dan young, dari syoknya berenang dan sekarang bersih lagi.
-Kini, 10 Februari 2013-
Hari ini juga sama. Tampak cerah namun siangnya hujan. Aku lagi beli makan kehujanan. Ngeliat jam tenyata pukul 13.12. Ah sudah setahun yang lalu. Ku lihat beberapa hal ternyata masih sama. Di cihampelas jalanannya jadi sungai. Beberapa tempat di Bandung banjir. Dan semoga ga ada korban jiwa atau korban dadakan seperti aku (˘ʃƪ˘) Semoga hujan hanya membasahi tanah yang kering, tidak membanjirkannya. Menenangkan hati yang gelisah, bukan mengacaukannya. Karena selama yang ku tahu, hujan itu berkah. Hujan itu anugrah. Serta petir yang daritadi menyalak, seseungguhnya sedang bertakbir menyebut nama-Nya. Keep save our earth with a lot of loves and cares.

Ini foto bon RS dan mobil yang ku tempati kolongnya tahun lalu

Engkau yang sedang marah, … sudahlah …

Janganlah kau teruskan memarahinya,
yang sesungguhnya sudah tahu bahwa dia salah.

Bukankah penyesalannya sudah cukup menyiksanya?

Apakah engkau menjadi lebih mulia
dengan membuatnya merasa semakin rendah
dan terluka dalam penyesalannya?

Apakah dunia ini menjadi lebih baik
denganmu yang marah tanpa arah,
dan dia yang meminta maaf kepadamu
yang tanpa rasa kasihan?

Sudahlah …

Lembutkanlah hatimu, dan lihatlah dia dengan kasih sayang.

Ingatlah,
suatu ketika nanti engkau akan juga berada
dalam keadaan yang sama.
Dan engkau akan tahu rasa dari penyesalan
dan permintaan maaf yang ditepis seperti lalat yang kotor.

Sudahlah …

Berkasih sayanglah. Damaikanlah hatimu dengan memaafkannya.

Dan dalam tangis yang bersulam tawa kecil,
dan dalam senyum haru yang berlelehkan air mata,
lupakanlah masa lalu,
hiduplah sepenuhnya hari ini,
dan jadilah pribadi yang sehat, damai,
dan bernafas lapang
menyambut semua kemungkinan baik masa depan -
yang disediakan bagi jiwa
yang meneruskan kehidupan dengan damai,
walau keadaan dan kejadian
seperti memberimu hak untuk marah
dan merusak dirimu sendiri.

Berhentilah marah.

Memaafkan menjadikan jiwamu berpendar indah.

Memaafkan menjadikanmu sesuai bagi keindahan hidup yang kau rindukan.

Tersenyumlah, dan bernafaslah dalam selapang-lapangnya dada.

Mario Teguh - Loving you all as always
 
 @maryaulfah_bude :)

Yeaaaayyyy akhirnya , finally, congratulation, jadi juga ke Yogyakarta \(^.^)/
Kita sedang menuju Magelang waktu aku nulis ini. Kita itu which mean Aku, Laras, Sabrina a.k.a Mami, dan Dewi. Kita lagi di rumah Laras. Setelah mengarungi perjalanan di kereta dari pukul 8 malam teng, eh tibalah kita pukul 3.59 waktu Indonesia setempat di stasiun Tugu Yogyakarta. Pas baru naik kereta di Bandung nih ya, kalimat yang terdenger tuh “Cieeee Bude naik kereta loh…”. Dasar anak SAK seneng banget cieciean.
Sepanjang perjalanan itu kita mengisi waktu luang dengan beli indomie rebus (bilang aja laper -_-). Naaaah, sembari menunggu pesenan, demi membunuh waktu, kita berencana main Uno. Kebetulan aku bawa uno sih buat main-main aja dijalan. Cuma nih, tadi kan sebelum berangkat Laras nyetel kipas, ternyata kita mulai agak kedinginan berhubung itu kereta entah berapa kecepatannya dan udah makin larut. Tapi tadi tuh masih belom ada siapa-siapa di kursi tempat pengatur kipasnya, sekarang udah ada. Jadilah kita nengok-nengok doang. Lalu dengan semena-mena si Laras nyuruh Dewi buat ngecilinnya. Di bangku itu ada dua cowo yang sepenglihatan aku sih biasa aja, ya cuma bhubung kita cewe kan, jadi males-males gimana gitu buat berurusan sama orang asing. Singkat cerita, Dewi ngecilin speed si kipas. Sayangnya, Dewi malah matiin itu kipas. Pas kita sadar yang terjadi adalah si kipas itu berenti bergerak, kita bengong dan ketawa-ketiwi ngenes gitu. Jadilah si mas-mas yang duduk d deket tombol itu berbaik hati utk mnyalain kipasnya lagi setelah melihat penderitaan kita yang kepanasan tp ga mau kedinginan.
Ternyata disitulah letak sialnya kita (mungkin aku dan Dewi yang paling ngenes). Gara-gara insiden kipas itu, si mas-mas jadi merhatiin kita terus. Risih, ga enak, mau negor takut dibilang kege-eran. Repot juga jadi cewek kalau begini, serba salah. Yang lebih ga asiknya, kita tau banget lagi d foto! Yang paling ke sorot tuh pasti antara aku sama Dewi, soalnya Laras sm Mami tuh beda arah dan ga keliatan jarak pandang si mas-mas BB ituh (dia pake BB sih, jadi panggil aja dia Mr.BB). Bukti bahwa kita ga kepedean itu bunyi shutter hape dia yang kedengeran jelas dan arah Bbnya. Meskipun dia pura-pura sibuk sama entah apakah itu, tapi itu jelas kameranya ngebidik ke kita!!! Berhubung aku sedikit tau kapabilitas BB, jadi aku harap dan berdoa banget jarak yang membentang memburamkan minimal menyuramkan hasil fotonya dia, amin…
Oia, buat lebih gampangnya, liat aja posisi duduk kita nih :
Laras dan Sabrina (Mami)

Aku dan Dewi
Sewotnya aku dan Dewi ketunda karena dateng mie rebus yang kita pesen. Tadi kita cm sempet bilang ke Laras dan Mami bahwa cowo itu annoying banget. Sekarang kita lebih hati-hati banget. Ga nampakin wajah dengan cara nunduk terus. Ngomong-ngomong tentang mie, tnyta Indomienya dikasih saos pula, cuma krn aku ga suka saos, jadi aku kasih aja ke Dewi. Eh Mami sama Laras juga ngasih saosnya ke Dewi. Hiiiiy jadi seyem ituh kuah indomienya Dewi. Selama makan itu, kita ga ngobrol juga ga ada kejadian berarti, udah pada anteng sama makanan masing-masing.
Selesai makan, siap-siap main Uno buat lewatin malam menunggu ngantuk. Karena kita duduk hadap-hadapan, jadilah Laras dan Mami naikin kakinya ke kursi aku lalu kita tutup syal, jadi deh kursi dadakan yang jauh dari lurus. Tapi lumayanlah buat tatakan main Uno, haha. Kreatif kan kita? Yauda tuh kita main Uno, bagi-bagiin kartu, jebrat-jebret aku pemenang pertama. Sambil nunggu mereka main, aku acak-acak kartu yang udah dibuang. Terus Dewi bisikin aku kalau kamera si mas BB nyala-nyala. Nengoklah aku dengan tatapan sadis, tau-tau si mas BB kaya kaget gitu dan buru-buru ambil hapenya. Ugh, kita direkam dong lagi main Uno gini. Dam*! Pengen banget diteriakin tuh orang, kurang ajaaaar. Mending-mending cm foto doang sih, tapi tetep ga sopan juga sih, haha. Udahlah, aku sama Dewi mau kacangin aja. Pas cerita ke Mami sama Laras, dengan enteng mereka ngomong : “Ciee bude dapet fans baru”, atau “Ciee bude dapet pacar dimana-mana”. Oalaaah, kesan saya seburuk itu ya sekarang? Hmmm #mikir… Untung setelah didiemin mereka pada tidur. Syukurlah #fiuh tarik nafas sejenak.
Lalu ditengah-tengah permainan kita yang ngalor ngidul dgn tangan penuh kartu, si bapak-bapak penjual mie lewat. Kita panggil aja buat dibayar. Terus terus bapaknya bilang tuh harganya 52 ribu. Yang lain pada ngorek-ngorek dompet , aku udah ngeluarin 50rb dan cm minta 2rb aja. Karena kebiasaan, kita nanya lagi deh harganya. Mereka bertiga masih anteng nyari dompet yang entah nyelip dimana. Bapaknya jawab : “Satunya 13rb neng, beli 4 jadi 52rb…” jawab bapaknya enteng kaya jelasin i-ni bu-di ke anak TK. Kegiatan bongkar sana-sini berenti gitu aja, mami bilang “Berapa, berapa”, mungkin mau mastiin ga salah denger. Bapaknya bak presenter kawakan jawab lagi berapa harganya. Nah antara ngegulum senyum penuh maklum dan seneb yang jleb dihati, kita bhasil ngluarin uang dan kayanya sih pada bunyi “glek-glek” seret dtenggorokan. Itu mie rebus cuma pake telor dikasih acar sama saos abc satu biji aja harganya 13ribu. Woowww, actually wow! Hahahaha.
Balik lagi ke kisah permainan Uno kita, berhubung cape dan pegel juga kaki jadi meja (ditengah-tengah permainan si Mami pegel jadi kaki aku jadi meja penggantinya) akhirnya kita udahan deh. Kita mutusin buat istirahat tidur. Ga sampe 5 menit udah pada grasak-grusuk buat ganti posisi. Mungkin karena ga biasa atau belum dapet posisi enak. Yang paling duluan tidur sih Laras. Ga lama kemudian Dewi nyusul. Padahal tadi sempet bilang kalau lagi pergi-pergi gini dia susah tidur. Tersisalah aku dan Mami. Kita maksain banget buat merem dan tertidurlah kita. Ga nyampe sejam dua jam aku udah bangun lagi aja. Pas liat jam baru jam 2 pagi. Setahu aku nyampe jogja tuh subuh. Laras malah pernah bilang kalau keretanya ga macet kita bisa sampe lebih cepet. (bingung ga sih kereta ada macetnya? Jangan-jangan pesawat ada lampu merahnya???). Kalau subuh jam 4 berarti jam 3an bisa aja sampe dong.
Setiap stasiun yang kita lewatin atau disinggahin, aku berusaha banget buat liat namanya. Setelah celingak-celinguk sekian lama, aku cuma bisa liat kita udah di Kutoarjo. Enga tahu itu stasiun mana. Yang lebih parah tadinya aku ga tahu kalau kita turun di stasiun apa. Soalnya Laras bilang rumah dia di Magelang. Apa nanti di stasiun Magelang ya turunnya? #ketauan udiknya toh sekarang. Aku diem aja, abis mau ngapain juga, di satu gerbong ini aku liat cm aku yang bangun. Sisanya pules ditempat masing-masing. Aku iseng-iseng searching sambil smsan. Katanya nanti Kutoarjo, Wates, terus Yogyakarta. Naaah, tadi udah lewat satu stasiun, apa yang berikutnya bakal di Jogja ya? Ahhh, harus sering-sering ngelakuin perjalanan nih biar ga udik.
Mau nanya Laras tapi ga tega. Yang lain juga pada tidur. Ah paling mentok-mentok ke Solo. Tinggal balik lagi aja deh kalau kelewatan mah, hihi. Dan, boaaam, pucuk di cinta ulam pun tiba. Laras bangun tuh, dia ngulet-ngulet gitu. Kebetulan, aku mau tanya dimana, dimana, dimana #ala ayu ting-tong. Jadi aku nanya deh, “Ras, ras, ras nanti kita turun dimana?”. Butuh semenit kali buat nyerna pertanyaan itu, yang akhirnya dijawab. Tahukah engkau jawabannya?? Nih dia bilang gini : “Udaaah De, tenang aja. Nanti, ini kereta berenti depan rumah gue. Dianter kita sampe rumah”, sambil ngibas-ngibasin tangan. Tinggallah aku bengong dgn muka cengo bin tablo ngeliat proses tidurnya si sleeping beauty ini. Oh God, masih bisa-bisanya dia becanda. Satu dunia ini Cuma dia doang udah yang cakep #ala Elvo kalau kesel.
Aku liatin jam aja tuh. Udah jam 3an, nanggung kalau tidur juga. Yauda aku bersabar dengan liat sana sini yang sebenernya ga keliatan apa-apa sih, haha. Jam stgh 4 Dewi sama Mami bangun juga. Sebagian orang udah bangun. Tapi teteeep sleeping bauty masih pules. Ternyata hampir sampai, eh salah udah sampai. Kata Laras pas dbangunin tuh kita belom sampe cenah. Ga lama bapak-bapak bilang “Jogja, Jogja ayo yang turun Jogja”. Uuughh, mata aku sipitin dan natap sebel bin gemes ke Laras. Masih aje ngelindur. Dasar anak itu :p
Waaaah, finally! We arrived. At Yogyakartaaaaa , ayey.
Berhubung kita dijemput papanya Laras nanti jam 7 sedangkan sekarang jam 5 subuh, jadi duduklah kita di peron. Stasiun masih sepi (yaiyalah siapa yang mau nongkrong jg jam segitu). Cuma ada beberapa karyawan stasiun yang berseragam gitu (kuli panggul kayanya, soalnya di Bandung begitu, cm kesannya kok ga enak nulisnya kuli mah). Yauda tuh, kita anteng duduk. Mataku sebenernya berat banget, mau tidur rasanya. Oia, kereta lodayanya masih anteng parkir di jalur 2 apa 3, oke mungkin 2,5 aja ambil tengahnya. Dan sialnya aku ngeliat mas BB dong! Dia ngeliat ke arah kita (bukan ngelirik doang!) sambil ketawa-ketawa puas. Tanpa sadar aku ngepalin tangan, ugh, semoga Tuhan membalas perbuatanmu!
Lagi pikiran kesana kemari aku denger si Laras ngomong, “Cieee bude. Udah di Jogja loh! Noh sebrang udah Malioboro. Kesono gih”. Denger kalimat terakhirnya Laras aku langsung nengok dan jawab, “Ya kali deh Ras subuh-subuh gini gue kesana”. Bener toh. Emangnya ada penjual yang buka. Ups, mungkin ada, tapi apa iya belanja jajanan like clothes, bags, batik and so on tuh subuh-subuh teuing?! Ini kepala sebenernya berat, tapi juga lapar. Mami mau nyari kopi, sedangkan Laras mau beli Roti Marya (sebenernya Maryam, dalam rangka ledekin aku jadi Laras bilangnya Marya). Dewi milih smsan atau fb-an gitu, aku mah hapenya udah tewas. Jadi aku nyenderin kepala ke kursi dan tidur dengan sendirinya. Sayup-sayup aku denger Mami bilang, “Ih bude, bisa-bisanya ya tidur di tempat umum. Gue ga bisa loh”. Terus Laras jawab, “Ah dia sih tidur dimana aja kapan aja”. Dan Dewi nyaut, “Kalau kita pindah kayanya bude ga tau nih”. Mami dengan semangat nanggepin, “Iya ya, kalau kita pindah lucu kali. Ntar si bude bangun-bangun bingung. Kita tinggalin aja yuk”. Nah entah bagaimana, aku dengan santai dadah-dadah dgn mata merem sambil bergumam “Iya hati-hati ya kalian” dan mereka kaget karena mikir aku udah pules. Daripada dengerin mereka debat kusir, ya aku lanjut tidur dengan telungkup di tas.
Tangan Dewi ngeguncang tubuh aku tepat pukul 7.17 (kebetulan pas melek liatnya jam stasiun yang segede gedenya jam). Wah lumayan udah dapet tidur sejaman lebih mah. I’m fully charger deh istilahnya (sambil kedip-kedip). Ternyata kita udah dijemput dan katanya mama Laras masuk buat nyari kita. Kata Dewi sih muka aku ada bekas lipetan, aku nanggepinnya nyantai aja, gapapa ada tattoo alaminya soalnya biar gaul tidur di stasiun, haha. Terus ketemu deh sama si Tante, wah heboh berdua kita. Aku bilang “Tanteee, aku di Jogja juga akhirnyaaa”, lebay sih, ah gapapa deh. Yowis salaman juga sama Ari dan ngobrol basa-basi sambil jalan buat ke mobil yang disampingnya udah berdiri papanya Laras. Kesan pertama ngeliat mereka kumpul tuh (keluarga Laras), kayanya adem yaaahh ~~. Masih pada cipika cipiki sama ortu, lah kalau aku sih wis lari mamake bapakenya karena malu, haha.
Singkat kata naiklah mami dibelakang sama Laras, ditengah ada Tante, aku sama Dewi, terus di depan Ari sama Om. Tepat mau keluar dari stasiunnya tuh ada kereta gitu, aiiih jadi enak. Tapi masa mobilnya miring ke kiri. Bener-bener miring ke kiri, seriusan. Kebetulan kayanya  karena Mami dan Tante yang badannya cukup besar duduknya sebelah kiri. Entah ngaruh apa enga. Akhirnya sih pindah Tante jadi didepan dan sebelah aku jadi Ari. Ga lama kemudian jalanlah mobilnya sambil diterangin ini itu sama Tante. Kita katanya lagi di Kota Baru, sebelah kanan tuh Malioboro dan kita mau makan soto di Pak Min. Uuueennaaak tenan sotonya, kita makan di lesehan kan. Wah top markotop deh, satenya juga manis. Dewi malah mau bawa pulang buat dicemilin yang diliatin Laras sama Mami dengan muka maklum gitu.
Abis makan lesehan itu, kita ikut cuuss ke budenya Laras. Katanya ada ponakannya Laras abis sunatan gitu. Ya namanya juga musim libur ya, apalagi masih pedesaan, rame kondangan udah ibu-ibu, hehe. Ga jauh sih dari tempat Soto itu, cuma lurus, belok kanan, lurus lagi, trus belok kiri, sampe deh (tapi jaraknya lumayan). Sampe disana, sebenernya mati kutu mau ngapain. Ngeliat anak yang disunat juga buat apa? Duduk aja, belom dipersilakan. Bingung jadinya. Mereka ramah-ramah dan banyak banget penghuninya. Aku sedikit tahu sih kalau Laras tuh keluarga besar. Hmm, maklum aja kali ya. Akhirnya aku cuma duduk (setelah disuruh loh).
Eh ada anak kecil pake baju tulisannya Sabrina. Mami langsung bisik-bisik ke kita kalau nama mereka kembaran, hihi. Usut punya usut benar adanya anak itu Sabrina. Ga disangka langsung akrab loh karena kesamaan itu, haha. Sayang banget sih hp aku mati dan yang lain ga pada foto-foto. Jadi ga berbekas kan yang kaya gini nih momennya. Oia abis itu kita keluar (aku, mami, laras, duo sabrina, sama padenya). Kita mau metikin buah kersen a.k.a cherry kecil-kecil yang banyak dipinggir jalan (jaman dulu tapi). Aku seneng banget sama pohon ini, buahnya seuprit, rasanya juga irit, tapi bikin gemes mau nyubit. Aku demen ngambilnya doang, sampe manjat-manjat kayu buat dapet yang merah.
Singkat cerita, setelah bertamu lumayan lama, baliklah kita ke mobil buat lanjut perjalanan ke Magelang. Kali ini si Tante dan Ari yang jadi guide. Laras sama Mami kayanya menikmati perjalanan dengan setengah ngantuk. Dewi sambil ganyem (ngemil) sate yang dia beli di tempat soto. Aku hampir ketiduran karna pas banget di depan angin, huaah. Eh terus Laras dengan enak bilang “De, mau beli oleh-oleh ga? Itu ada ubi cilembu, beli aja buat oleh-oleh”. Aku bengong dan nengok ke belakang. “Ya kali deh gue beli ubi”, jawab aku seenaknya. Dewi sama mami cekikikan, apalagi setelah denger alesannya laras yang isinya gini : “Ya lu kan nyari oleh-oleh De. Bagus tau kalau lu beli ubi”. Haduh benar-benar sesuatu deh. Aku jawab aja gini, “Di Bandung atau Tangerang juga ada ubi cilembu mah. Spesialnya kalo gue beli Ubinya disini ntar tu Ubi udah jalan-jalan keliling Magelang, Jogja, ke Bandung dulu baru Tangerang”.
Setelah berngantuk-ngantuk ria, sampailah kita ke rumahnya Laras. Kanan kiri sawah hijau membentang, awannya juga bagus. Rumah Laras juga bagus, asri dan adem. Banyak ayam dihalaman belakang rumah, ada gubuk kecil yang didepannya kolam ikan. Pokoknya adem banget deh. Bisa dilihat dari foto-foto selama dirumah Laras ini. (meskipun sayang banget lupa foto halaman blakang dan ayam-ayamnya)
rumah Laras tampak dari samping

view halaman belakang

Beres-beres barang udah selesai, saatnya berkeliling. Aku ke halaman belakang ngikutin Laras. Kita mau lihat hasil si gubuk kecil. Wah harus ngelewatin kandang ayam dulu nih, mana banyak dan besar-besar. Aku liat dikolam Laras ada beberapa ikan yang mangap-mangap mnta dikasih makan atau cari oksigen. Adem juga disini, tapi hawanya yang panas yang bikin mengganggu. Disamping gubuk itu ada pohon rambutan, sayangnya kering kerontang bekas kena debunya merapi pas si gunung lagi batuk-batuk. Oia dijalan juga sempet lewat jembatan yang hancur kena debu plus batu merapi. Katanya batunya gede-gede banget. Wow, liat langsung gitu bikin sedikit berimajinasi gimana mbah Marijan kena panasnya itu. Pasti dahsyat banget deh, serem juga bayanginnya.
Ga lama setelah aku ngobrol-ngobrol, Mami muncul dr pintu belakang. Dia langsung excited pengen ikut gabung. Tentu aja diterima dengan tangan terbuka. Cuma Mami harus cari sandal dulu, kan banyak tele (kotoran ayam). Sayang kalau pake sandal yang biasa Mami pake mah, ntar pas jalan-jalan ada bau-bau gimana gitu, hehe. Beberapa menit kemudian Dewi juga muncul mau ikut gabung, Cuma dia takut ayam. Mamanya Laras sampe keluar buat masukin ayam-ayamnya ke kandang, hihi. Ngomong-ngomong kolam ikan, denger-denger nanti malam mau makan ikan krena papanya Laras lagi mancing. Hmmm, I’m not excited at all, ga tlalu suka ikan. Tapi aku bertekad kuat untuk makan apapun, dalam rangka liburan! *apasih..
Sore berganti malam. Selesai mandi dan beberes seadanya, kita ngumpul ngalor ngidul dengan obrolan gaje gitu hihi. Dan jeng-jeng-jeeeeng, sup ikan nila atau pati apa sebangsanya gitu udah ngepul” di meja makan. Alhasil kita makan dulu deh. Dan aku cm milih ikan yang paling kecil aja. Berhubung hape aku masih dimakar, jadi makan malem ini ga di foto deh rupanya kaya apa. After all, enak kok ikannya :p
Besok paginya –atau menjelang siang- Kita minjem mobil papanya Laras buat jalan-jalan ke Yogyakarta, horeeee. Begini nih penampakannya :
tampang sebelum jalan-jalan
mobil papanya Laras
Laras dan pengemudi (Mami, hehe)

Ari, Aku dan Dewi (agak blur yaa)
Kita jalan ke Warung Makan Senerek. Disana kita beli nasi campur gitu, disebutnya nasi . Waw, pas lihat memang ga terlalu menggugah, tapi pas dimakan, hmm yummy deh. Udah gitu kita minumnya es beras kencur. Perpaduan yang unik kan :p hehe. Untung banget Laras meseninnya setengah porsi, begaaaaah banget karna kenyang. Engap”an minum kencurnya. Setelah kenyang, kita cuuss ke Borobudur. Dan guide-guide gadungan alias Laras dan Ari tuh ga terlalu hapal jalan. Voilaaa, jadilah kita berpatokan petunjuk arah saja. Oia selama dijalan, aku sempet ambil foto sawah gitu, liat deh :
awan dan sawah :)
warung senerek

Dengan rahmat Allah YME, akhirnya kita sampai juga di Candi Borobudur, horeee *hihi lebay. Wuhuuu panasnyooo, langsung berpayung ria deh. Foto-foto tiketnya dan kita bersiap ke dalem. Tiket hari weekend itu Rp 30.000, jadi beda 10rb dari hari biasanya. Ga jauh dari pintu masuk, kita harus pakai kain batik. Semua pakai kain itu layaknya sarung. Aku, Dewi, Mami, Laras dan Ari ganti-gantian pakai kainnya. Sempet direkam juga (tapi blm megang rekamannya, nanti di update lagi klo sempet). Yuph, udah manis pakai optional kain batik, langsung jalan deh kita.
Aku sama Ari sebenernya mau itungin tangga Borobudur, tapi cape, hehe. Ya kali deh, di sela jalan yang ngos-ngosan dan foto-foto kita masih bisa konsen buat itung tangganya. Dan karena kita sebenernya narsis juga di foto, makanya ganti-gantian deh ambil fotonya. Beberapa udah terangkum disini nih :
Tiket masuk Candi Borobudur

Pakai kain batik :)

Stupa yang ga boleh dipegang

AKu, Laras, Mami, Dewi, Ari di Borobudur

Borobudur termasuk candi yang kena abu Merapi waktu si gunung lagi uhuk-uhuk alias batuk. Beberapa tempat masih tersisa debunya. Petugas disana sedang melakukan pemugaran agar candinya terawat. Mungkin salah satu cara pemugarannya dengan melarang kita (pengunjung) untuk tidak duduk di deket stupa, masukin tangan buat nyentuh stupa dan Cuma boleh 15 menit dipuncak stupa. Wow, kalau kalian ngerasain sendiri tuh ya, petugasnya galak-galak loh. Mereka ga segen-segen buat negor para pengunjung yang nakal. Ckckckck, salut!! Coba semua petugas keamanan seperti mereka, mungkin lebih disiplin para pengunjung tempat wisata dimanapun kapanpun. Yaa, kesadaran diri dari kita untuk menjaga warisan leluhur. Mari kita rawat bersamaaa.
Berhubung kita berangkatnya siang ke Borobudur, kita pulang hampir menjelang maghrib gitu. Panasnya udara dan pegel muterin candi bikin kita ngidam eskrim atau minuman dingin deh, yang penting dahaganya hilang. Udah mana kita malah lewat pintu depan lagi, nyasar gitu deh kita hihi. Belok-belok nemulah jalan ke Magelang. Kita nyanyi-nyanyi dan ngobrol segala macem. Akhirnya dijalan nemu mini market. Pas banget di adzan Maghrib. Woooaaahhh, serbu. Kita sangat kehausan soalnya, cari rak minuman dan eskrim, hehe. Malemnya, mungkin karena kecapean dan sudah waktunya istirahat, maka kita semua tidur, yeeeaaay.
Esok harinya, Laras sama Mami nyari sewaan mobil buat kita bawa jalan-jalan. Sembari nunggu mereka, aku baca novel. Tapi apalah daya, ngantuk sangat. Jadilah aku tidur siang dulu nunggu mereka. Balik-balik dari tempat sewa, Laras sama Mami bawa kisah. Katanya mereka cape muter-muter dan kepanasan. Lucunya mereka dapet sewa murah dengan syarat kelewat gampang. Langsung bawa aja mobilnya, haha. Hebat pemiliknya, ga takut dibawa lari apa mobilnya. Katanya sih yang ngasihin mobilnya itu agak ganjen dan sekitaran 30-an lah umurnya *penilaian pas liat tampangnya yah. Jadi si Mami sm Laras agak-agak maklum juga, kan mereka cewe, yang ngelayanin cowo, wajarlah kalau si mas/bapak penyewanya itu beramah tamah. Cukup murah juga loh nyewanya, seharian 150 ribu, mobilnya xenia silver kalau ga salah mah. Karena mobil udah ada, kita siap-siap cuuusss jalan. Tujuan pertama ke jejamuran daerah Sleman, Yogyakarta.
Aku, Ari, Dewi, Laras sama Mami udah kece buat jalan-jalan. Masuklah ke mobil dan berangkaaaat. Aku sempet foto sebelum kita cuusss, hehe. Nih liat yaa, sekalian foto di jejamurannya juga…

jamur asam manis

bakso jamur

sate jamur yang nyummmy

tongseng jamur

nasi dengan taburan bawang goreng

es yang masih lupa apa namanya
Sabrina, Laras, Dewi dan Aku

Dewi, Aku dan Ari

Laras dan Mami dengan daftar menu, hehe

jejamuran :D

Jadi jejamuran itu tempat makan semi café (atau udah café ya?) yang nyediain makanan serba jamur. Wow, nikmat kan? Iya kan? *tingting kedip-kedip. Selain karena harga yang terjangkau, rasa yang deliciusn lezatoz bikin jejamuran selalu ramai. kita berlima mesen dua bakso jamur, tongseng jamur, jamur asam manis, dua sate jamur dan es apa yah lupa namanya (kalo udah inget bakal di update postnya). Yang jelas rasa es itu enak, agak manis, agak mengkel (aduh bahasa indonesianya apa ya) dan nyummy buat diemut *apa coba. Ah, apa ya nama es itu. Pada lupa juga lagi nih pasukan MaYO (Magelang Yogyakarta-hihi)
Pas udah selesai makan, kita sempet beli keripik jamur. Ada keripik jamur kuping, sama keripik jamur tiram. Oia, dr semua makanan yang kita pesen itu, masing-masing orang cukup patungan 30rb saja, dijamin kenyang dan puas dengan rasanya (especially tongseng dan satenya, yuuummmy). Nah perut udah kenyang, kita mau cuuusss ke prambanan. Siap keliling-keliling deh kita :D
Sesampainya di Candi Prambanan, paaasss banget hujan rintik rintik. Tapi kita tentunya sudah sedia payung sebelum hujan. Kali ini tiketnya Rp 20.000 saja. Nah pas mau masuk, kita sempet dikira rombongan anak SMA yang emang lagi berkunjung. Woaah, tampak muda ya kita?hihi. Sayangnya, paaassss banget kita melangkah masuk, eh hujan deres. Jadilah kita berlindung dibawah naungan payung dan menjuluki diri “umbrella girl”. Hujan semakin deres bikin kita kesulitan untuk foto-foto. Kita masuk ke candi Wisnu, voilaaa rame banget dah. Banyak anak SMA gitu. Lucunya, aku berasa banget ngeliat mereka kaya gini : “Ah apa sih, masih sekolah aja pada bisik-bisik ngomongin gebetan masing-masing pas fieldtrip gini” ->p padahal sendirinya juga dulu begitu, dan kayanya pas aku ngomong aku lupa deh aku juga masih anak sekolahan, hihi.
Puas ngeliat-ngeliat, kita bersiap buat keluar dan pulang. Ga tau kesandung atau apa, tiba-tiba sandalnya Ari putus. Mau ga mau kita harus cari sandal, yang sangat kebetulannya, toko souvenir di depan mata. Ari sama Dewi disuruh duduk dulu, biar aku, Mami sama Laras aja yang pergi buat beli. Kan kalau ketahuan sandal Ari putus, takutnya dimahalin harganya. Di jalan menuju toko souvenir ada bapak-bapak main biola dan keren banget lagunya tradisional gitu. Tambah keren lagi ada yang ngasih dollar buat bapak itu. Wow amazing! Oia sandalnya 15ribu, cukup murah kok dapetnya *tring tring kedip.. Hasil di Prambanan :
jadi umbrella girl di prambanan

Prambanan dari jauh

Laras, Ari, Sabrina, dan Dewi

Hujan ga menghalangi buat narsis

Hari masih cukup siang, memungkinkan buat kita ke Yogyakarta dulu buat survei tempat penginapan. Soalnya mulai besok sampai kita pulang nanti, kita mau habisin waktu di Yogyakarta aja buat jalan-jalan dan blanja blanji. Nah keliling deh, masuk sana sini liat harga dan nganalisa calon tempat inapan kita. Hmm, lumayan mahal ternyata. Mami udah sedikit searching di internet, dia bilang ada yang semalemnya Cuma 80ribu buat berempat, lumayan hemat kan jatohnya. Tapi kita nyari kesana kemari, hotel yang dimaksud ga ketemu. Yang ada aja deh kita tanya-tanya harga dan fasilitasnya. Padahal kita megang alamat si hotel itu, nama jalannya juga familiar, cm karena belum berjodoh kali ya, ga ketemu gitu.
Sampai senja nampak dilangit, kita belum sreg sama hotel yang udah disinggahin. Kita berencana besok berangkat pagi-pagi banget buat nyari lagi. Saat ini diudahin dulu nyarinya, takut nanti kemaleman, susah balikin mobilnya lagi. Mungkin lebih baik kita sekalian makan, lapar kan muter terus daritadi. Musyawarah bersama menunjukan kita mau coba makan ayam kremes di daerah Kota Baru deket kosan Laras yang dulu. Sesampainya disana, kita kayaknya ga dapet tempat duduk deh. Tapi kata mas-masnya ada tempat kosong di sebrang warungnya, dan kita bisa nempatin disitu. Yauda kita jalan kesana tuh, ga taunya agak remang cahayanya (sumpah bukan warung remang-remang ye). Dan kita baru aja duduk, baru aja masnya anter teh anget, kita langsung nanya ada tempat kosong ga saat ini di warung utama, soalnya pengen pindah gitu.
Alhasil masnya jalan dan lihat keadaan di warung aslinya. Beruntungnya kosong. Terus tiba-tiba masnya dateng dan bilang : “Ada mba yang kosong. Emang ono opo toh disini? Serem yaaa?”. Pas dia nanya gitu nadanya nakut-nakutin. Dan dia gunain senter buat nyorot mukanya sendiri. Asli deh, justru dia yang bikin serem, hahaha. Cocok jadi hantu si masnya. “Mbak, disini ga ada apa-apa kok”, masnya ngomong lagi. Tapi kita tinggalin karna kita jalan duluan ke warung utamanya. Dasar mas-mas sarap. Yang kasihannya aku sempet lihat sekumpulan orang yang duduk persis disebelah kita. Mereka tampangnya cengo, bingung, dan ikut terhasut kayanya sama kata-kata mas tadi. Dikira ada hantu mungkin. Padahal kita pindah karena ga betah, hehe, maaf ya kawanan tetangga sebelah :p
Ayam kremesnya nampak menggiurkan, memanggil perut lapar dan lalapannya itu loh, seger di mata deh. Eye cathcing. Nih liat aja fotonya, nyumnyum banget kan? Kalau aromanya bisa ditangkep mah udah di share kali harumnya kaya apa, hihi.
Ayam kremes

aku, Dewi, Ari dan Laras di warung utama

Aku, Ari dan Dewi di warung yang agak remang pencahayaaannya

Oia, sambelnya mantep banget. Ada dua macem, yang satu agak pedes tuh, tapi yang satunya lagi pedes sangat. Berhubung aku gangguan di magh, aku tau diri untuk ga coba macem-macem. Jadilah aku pakai sambel yang agak pedas, itupun cm sedikit karna ga mau ambil resiko tumbang dijalan. Aku beli ayam kremes sama tahu juga teh manis, harganya Rp 10.000 aja. Enak ya murah, hehe. Soalnya itu kremesnya ueennnaaak deh *agak sedikit melebaykan. Waktu telah menunjukan hampir jam 7 malam, saatnya para gadis pulang, kan sudah kenyang dan bersenang-senang.
Sekian dulu part satunya, di part berikutnya akan diceritain gimana kita balikin mobil yang super aneh ke mas/bapak ganjen juga petualangan kita di meja tertawa dan tentunya kisah-kisah selama Yogyakarta. See yaa :D
Resume ini hampir mendekati keseluruhan bab Environtmental Scanning meskipun ada beberapa yang masih kurang. Tapi semoga data ini bisa membantu :)


PENGERTIAN ENVIRONMENTAL SCANNING

·         Menurut Hunger dan Wheelen (2000:53-54) : Environtmental scanning is monitoring, evaluating and disseminating of information from the external and internal environment to key people within the corporation. A corporation uses this tool to avoid strategic surprise and to ensure its long term health.
·         Menurut Aguilar (dalam Choo, 2001) : Environtmental scanning is the acquisition and use of information about events, trends, relationships in an organization’s external environtment, the knowledge of which would assist management in planning the organization’s future caourse of action.
·         Menurut Wright, Kroll & Parnell (1998:31) : Environtmental scanning is the gathering and analysis of information about information trends.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Environtmental Scanning merupakan suatu proses pengambilan keputusan, analisis, penguraian informasi dan bagaimana organisasi menggunakan informasi eksternal perusahaan yang melibatkan sejumlah orang yang berada di perusahaan. Fahey dan Narayanan (dalam Morrison, 1992) berpendapat bahwa environmental scanning yang efektif seharusnya dapat membantu pembuat keputusan mengetahui perubahan potensial yang terjadi di lingkungan eksternal mereka. Environmental scanning menyediakan penyelidikan strategik yang berguna dalam pemilihan keputusan strategi. Konsekuensi dari aktivitas ini adalah bertambahnya pemahaman akan dampak dari perubahan terhadap organisasi, membantu meramalkan, dan membawa harapan perubahan yang baik dalam pembuatan keputusan.
TUJUAN DARI ENVIRONMENTAL SCANNING
Dari berbagai literatur yang ada, pada umumnya sebuah organisasi melakukan environmental scanning dengan tujuan untuk :
§  Memahami perubahan kekuatan lingkungan, sehingga mereka mampu menempatkan diri dalam persaingan masa mendatang.
§  Menghindari keterkejutan, identifikasi peluang dan ancaman, mencapai keunggulan kompetitif dan mengembangkan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.
§  Untuk meningkatkan kesadaran para manajer tentang kemampuan potensial yang berpengaruh penting pada lingkungan industrinya dan mengidentifikasi ada tidaknya peluang dan ancaman di sekitar lingkungan.
§  Untuk menghindari keterkejutan strategi dan menjamin kesehatan jangka panjang perusahaan.
EXTERNAL ENVIRONTMENTAL
Proses analisis lingkungan external harus dilakukan dengan dasar yang berkelanjutan. Proses ini meliputi empat kegiatan, yaitu :
o   Scanning : mengidentifikasi tanda-tanda awal perubahan lingkungan dan tren.
o   Monitoring : menemukan arti melalui observasi secara terus-menerus terhadap perubahan lingkungan dan tren.
o   Forecasting : membuat proyeksi perkiraan hasil berdasarkan perubahan dan tren yang dimonitor.
o   Assessing : menentukan waktu dan arti penting perubahan lingkungan dan tren terhadap strategi dan manajemen perusahaan.
 Dalam lingkungan external terdapat lingkungan umum (general environtment) atau bisa kita sebut lingkungan masyarakat (societal environtment), dan lingkungan industri (industry environtment) atau bisa kita sebut lingkungan tugas/industri (task/immediate environtment).
·         Lingkungan umum (general environtment) meliputi :
a.       Faktor ekonomi : mencakup pertumbuhan, distribusi Y, tabungan, utang dan kredit
b.      Faktor sosial : mencakup nilai-nilai masyarakat dan kebudayaan
c.       Faktor politik dan hukum : mencakup aturan-aturan bisnis dan kelompok kepentingan
d.      Faktor teknologi : mencakup perubahan teknologi, peluang inovasi dan anggaran litbang
e.       Faktor demografi : mencakup pertumbuhan penduduk perubahan komposisi umur & etnis, pendidikan, migrasi, dan perubahan menuju pemasaran mikro
·         Lingkungan indsutri (industry environtment) meliputi :
a.       Ancaman pendatang baru (new entrans) : pendatang baru membawa kapasitas baru, keinginan untuk merebut bagian pasar serta barangkali memiliki sumber daya lebih besar, akibatnya harga menjadi turun atau biaya membengkak sehingga mengurangi profitabilitas/kemampulabaan. 
b.      Pemasok (suplier) : kekuatan pemasok tergantung pada jumlah karakteristik situasi pasar dan pada tingkat kepengtingan relatif penjualan dan pembeliannya dalam industri dibandingkan dengan keseluruhan bisnisnya (Pearce II dan Robinson, 1997)
c.       Pembeli (customer) : pembeli atau pelanggan merupakan suatu hal yang sangat berharga untuk perusahaan, oleh karena itu manajer harus mampu mengamati perubahan perilaku konsumen. Pembeli biasanya sangat selektif sehingga jika mereka mempunyai informasi lengkap tentang permintaan, harga pasar dan biaya pemasok maka posisi tawar menawar pembeli bertambah kuat. Perusahaan haruslah memperbaiki posisi strategisnya agar bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan pembeli.
d.      Produk subtitusi (subtitution product) : produk pengganti membatasi laba potensial dari industri dengan menetapkan harga pagu (ceiling price) yang dapat diberikan oleh perusahaan dalam industri. Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan maka makin ketat pembatasan laba industri. Barang pengganti yang mendapat perhatian besar adalah produk yang mempunyai kecenderungan harga atau prestasi yang lebih baik dari produk industri dan dihasilkan indsutri berlaba tinggi (yang dapat menyebabkan penurunan harga atau peningkatan prestasi).
e.       Pesaing (competitor) : pengetahuan mengenai pesaing perusahaan sangatlah penting, sebab jika suatu peusahaan mampu menganalisis pesaingnya, maka perusahaan tersebut dapat menentukan posisinya dalam persaingan. Ada 3 macam pesaing yang akan kita temui. Pertama pesaing generik, yaitu pesaing yang menampilkan produknya dengan cara-cara yang berbeda dalam memuaskan keinginan konsumen. Kedua pesaing bentuk produk, yaitu pesaing yang menampilkan produknya dalam bentuk yang berbeda. Terakhir pesaing merk, yaitu pesaing yang menampilkan produknya dalam merk yang berbeda.

Adapun analisis external juga dibahas dengan model lingkungan industri yang merupakan model 5 kekuatan bersaing yang dikemukakan oleh Michael E. Porter (1996:22). Model ini adalah strategi bisnis yang digunakan untuk melakukan analisis dari sebuah struktur industri. Analisis tersebut dibuat berdasarkan 5 kekuatan kompetitif (Five Forces Model Porter) yaitu :
1.      Masuknya kompetitor (Threat of New Entrants). Bagaimana cara yang mudah atau sulit untuk kompetitor baru untuk mulai bersaing industri yang sudah ada. Ancaman kompetitor baru tergantung pada skala ekonomi, modal untuk investasi, akses untuk distribusi, akses teknologi, brand loyalty (apakah pelanggan setia dengan brand tertentu) dan peranturan pemerintah
2.      Ancaman produk atau Jasa pengganti (Threat of Subtitute Product or Services). Cara mudah masuknya produk atau jasa yang dapat menjadi alternatif dari produk atau jasa sudah ada, khususnya yang dibuat dengan biaya lebih murah. Ancaman dari produk, jasa pengganti tergantung pada kualitas, keinginan pembeli untuk beralih ke produk jasa pengganti, harga dan performa dari produk jasa pengganti, dan biaya untuk beralih ke produk jasa pengganti.
3.      Daya tawar dari pembeli (Bargaining Power of Buyers). Bagaimana kuatnya posisi pembeli. Pembeli mempunyai kekuatan untuk menentukan kemana dia akan melakukan transaksi. Daya tawar pembeli tergantung pada konsentrasi dari pembeli, diferensiasi dari produk, profitabilitas pembeli, kualitas dari produk dan servis serta perpindahan biaya.
4.      Daya tawar dari pemasok (Bargaining Power of Supplier). Bagaimana kuatnya posisi penjual. Apakah ada banyak supplier atau hanya beberapa supplier saja, bisa jadi mereka memonopoli supply barang. Daya tawar supplier tergantung pada konsentrasi dari supplier, brand, profitabilitas supplier, pemasok masuk ke dalam industri, kualitas dari produk dan servis serta perpindahan biaya.
5.      Persaingan diantara pemain yang sudah ada (Relative Power of Other Stakeholders). Bagaimana kuatnya persaingan diantara pemain yang sudah ada. Apakah ada pemain yang sangat dominan atau semuanya sama. Persaingan di antara pemain yang sudah ada tergantung pada struktur dari kompetisi, struktur dari biaya di industri, tingkat diferensiasi produk, perpindahan biaya, tujuan strategis dan ketika hambatan untuk meninggalkan industri semakin tinggi maka persaingan akan semakin besar.

INTERNAL ENVIRONTMENT
Lingkungan internal meliputi :
o   Stuktur organisasi (Organization structure) : struktur menggambarkan bagaimana pekerjaan/tugas-tugas dibagikan dan bagaimana kegiatan-kegiatan anggota organisasi dikoordinasikan. Semakin sesuai struktur organisasi dengan yang telah dijalankan, samkin mudah mengimplementasikan strategi.
o   Budaya organisasi (Organization cukture) : didefinisikan sebagai sistem norma, sikap, nilai-nilai kepercayaan dan kebiasaan yang tercermin dalam tingkah laku anggota organisasi. Budaya perusahaan melibatkan bagaimana orang berpikir dan bertindak sebagai anggota organisasi dan dapat menjadi kekuatan utama apabila konsisten dengan strategi organisasi.
o   Sumber daya organisasi (Organization Resource) : didalamnya ada harta, persaingan, proses, keterampilan dan pengetahuan yang dikontrol oleh perusahaan. Sumber daya akan menjadi kekuatan apabila dimiliki oleh perusahaan dengan kemampuan kompetitif (competitive advantage).
Sumber daya adalah suatu kelemahan jika merupakan hal yang dilakukan perusahaan dengan buruk atau tidak memiliki kapasitas untuk melakukan sesuatu meskipun pesaingnya memiliki kapasitas tersebut. Barney, dalam analisis kerangka VRIO (VRIO framework) mengajukan 4 pertanyaan untuk mengevaluasi sumber daya andalan setiap perusahaan :
1.      Nilai (value) : apakah hal ini menentukan keunggulan bersaing?
2.      Kelangkaan (rareness) : apakah kompetitor lain memiliki ini?
3.      Kemampuan dapat ditiru (imitability) : apakah mahal untuk ditiru orang lain?
4.      Organisasi (organization) : apakah perusahaan diorganisir untuk mengeksploitasi sumber daya?
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencapai keunggulan bersaing. Antara lain, pendapat yang yang sering muncul adalah dengan menemukan dan mengembangkan suatu core competency  atau kompetensi inti. Kompetensi berkaitan dengan skill, knowledge dan teknologi know how yang memberikan keunggulan khusus pada poin tertentu dari rantai nilai yang apabila digabungkan dengan “strategic process” akan menggabungkan rantai membentuk “core capability” (Crown, 2002).
Pengamatan dan penganalisaan lingkungan eksternal  terhadap peluang dan ancaman tidaklah cukup untuk menentukan keuntungan bersaing (competitive advantage) sebuah organisasi. Seorang analis harus juga mengamati lebih jauh mengenai bagaimana perusahaan tersebut dapat mengindentifikasi faktor-faktor strategi internal—Kekuatan dan kelemahan  yang  mungkin untuk dapat ditentukan jika sebuah perusahaan  akan dengan mudah mengambil keuntungan dari peluang yang ada untuk menghindar dari ancaman. Pengamatan internal ini seringkali digunakan sebagai petunjuk oleh  seorang analis organisasi dan dilibatkan dengan mengidentifikasi dan membangun sebuah sumberdaya yang dimiliki sebuah organisasi.
Dua karakteristik yang menentukan kesatuan ketahanan perusahaan dalam mempertahankan keunggulan kompetitif (competitive advantage) : Durabilitas dan Imitabilitas.
Durabilitas adalah tingkat yang menunjukkan daya tahan sumber daya dan perusahaan menjadi berkurang atau ketinggalan jaman.
Imitabilitas adalah tingkat yang menunjukkan daya tahan sumber daya dan kemampuan perusahaan (yang diutamakan) dapat diduplikasikan/ditiru oleh perusahaan-perusahaan lain.
Hasil tersebut mampu mengembangkan sumberdaya dalam mempertahankan keunggulan kompetitif (competitive advantage), yang meliputi :
1.      Transparansi, kecepatan perusahaan pesaing untuk memahami hubungan sumber daya dan mendukung sukses perusahaan.
2.      Transferabilitas, kecakapan para pesaing untuk mengumpulkan sumber daya dan dukungan tantangan bersaing.
3.      Replikabilitas, kecakapan pesaing untuk menggunakan sumber daya dan meniru kesuksesan.