Skripsi dan sidang, semua itu pasti bikin pusing juga stress mahasiswa mahasiswi. Dan satu tambahan lagi yaitu revisi setelah sidang yang pastinya membuat mahasiswa berpikir ulang, meskipun lega karena sudah melewati sidang. Tapi siapa sih yang ga mau nyantai setelah sidang? Dan aku termasuk salah satu yang bisa bersantai karena sidang skripsiku tanpa revisi.
Sebagian besar orang bilang :  "Enak yaaah ga ada revisi. Gimana sih caranya?" Untukku, aku ga tau sama sekali bagaimananya. Cuma untuk proses skripsiku, aku masih ingat betul. Yang aku yakin proses kita berbeda.
Saat penyusunan skripsi menjelang sidang penelitian, laptopku mati. Ga mau nyala. Tewas gitu aja. Mau pinjem yang lain, pastinya dipake juga dong. Secara sama-sama nyusun. Jadi aku menggunakan barang yang ada, yaitu smartphone yang aku punya. Instal office pro lalu mulailah aku ngetik di layar kecil Galaxy Young GT S5360. Tulisannya kecil-kecil, ya emang karena layarnya kecil juga kali. Bentuknya jelas ga senyaman saat ngetik di laptop atau komputer. Setiap ada waktu diusahain ketik. Setiap ada kesempatan digunain mikir.Pokoknya skripsi ini harus bisa dikerjain dengan benar.
Enaknya saat skripsi tuh jadwal kuliah ga tentu. Masih bisa wara-wiri diluar sana. Datengin lokasi penelitian yang sangat ku suka, stasiun kereta. Simpel sih kenapa pilihan jatuh ke PT. Reska Multi Utama Bandung (anak persero PT. KAI). Karena aku ga tau hotel mana yang bisa nerima anak skripsian kayak mahasiswi bau kencur ini. Channel orang dalem ga banyak. Semua usaha sendiri. Ya satu hal yang aku pahami, kekuatan relasi itu menentukan guys. Soalnya saat aku dateng sendirian kemudian ga kenal siapa HRDnya, siapa manajernya, siapa CEOnya, itu ibarat aku ini kucing yang mau neduh dirumah manusia sebentar tapi banyak pintu yang menolak. Perumpamaan yang jelek, well memang haha. Padahal kalau aja mereka ngijinin, bisa ada simbiosis mutualisme dimana mahasiswa menerapkan teori dari timbunan buku yang udah dipelajari sedangkan si hotel bisa mengajarkan mahasiswa tsb sekaligus mengambil terapan teorinya yang bisa saja policy baru. Kemudian nyeletuklah adik kelasku bernama Regiyan mengatakan bahwa PT. Reska Multi Utama ini bergerak di bidang katering dan supply makanan ke kereta. Tanpa pikir dua kali, aku datengin kantor pusatnya.
Surpriseee si bapak HRDnya memberikan ijin. Ga perlu nunggu banyak administrasi yang meribetkan hanya perlu ngasih surat ke HRD sananya. Aku berencana akan ambil lokus ini untuk skripsiku. Yang ternyata ada Elvo Rizky E.A dan Edwin Stefanus yang ikut serta. Setelah rundingan panjang lebar kali tinggi, aku akan ambil marketing, Elvo ambil HR dan Edwin ambil produk. Maka kita bertiga inilah yang sering menyambangi PT Reska. Lokasinya dibelakang stasiun Kota Bandung. 
Setiap balik dari sana disempetin kuliner. Mie ayam deket stasiun, bakso gede yang di gerbang pintu stasiun bagian dalam, soto ayam kampung, dan tentunya primadona makanan di PT Reska Multi Utama yaitu nasi goreng hehe. Soto ayam kampung disana enak banget loh, suer deh. Dan ada waktu dimana aku nyempetin waktu ke Rumah Sakit Santosa buat berobat karena ada jadwal test ini lah rontgen itulah, pokoknya riweuh. Aku sempet juga pas lagi menunggu HRD dan Marketing PT Reska Multi Utama itu pas lagi jadwal cek darah. Tangan nyut-nyutan. Panas terik. Milih makan di Paskal. Yang katanya 1100 menu ternyata lokasinya nun jauuuuuh di ujung paskalnya. Kalau jalan yaa lumayan capek. Lucunya lagi, kami sungguhan jalan kaki. Soalnya waktu itu aku ditemenin sama Elvo, Dewi dan Edwin juga kesananya.
Skip tentang makan, lanjut ke Skripsi ini. Aku melewati banyak tahap. Melewati banyak revisi sana-sini. Ada satu waktu aku pas-pasan sama Pak Ganef, dosen marketing yang pernah aku tanya juga tentang MOV. Dia ngeledek ceritanya, bilang kalau misalnya aku ketemu dia diruang sidang, skripsi aku tuh mau dia keplek-keplek (oh God pemilihan bahasa gue, hmm semacam membuat si skripsweet dikibas-kibas buat kipasan gitu deh). Intinya dia bilang, "Kalau gue ketemu lu, kertas skripsi lu gue angkat tinggi-tinggi sambil bilang : Apaan nih, gue ga ngerti. Lu ulang aja!" katanya sambil cengengesan. Aku cuma jawab "Silakan aja lah Pak. Doa gue sih ga ketemu lu ntar." Dosennya kan gaul jadi bahasanya aja gue-elu. Maka berlalu lah aku dari hadapan dosen rada-rada itu (hehe peace ahh Pak). By the way, karena kadang dia nyolotin, aku ga sengaja ketemu dia di lift. Pas dia mau keluar, dengan polos aku tutup lagi liftnya dan pencet angka lain biar liftnya bergerak :D
Selama proses itu kami disibukin juga sama project bikin hotel plus bikin restoran sampai dibuat sedetail mungkin. Project itu bisa jadi menambah beban kami. Bisa jadi pelarian kami juga. A little escape from skripsweet. Maka kami berbarengan mengerjakan hal itu, soalnya sekelas dibagi dua kelompok. Aku kebagian kelompok hotel. Jadi kami memilih untuk membangun kembali hotel yang sudah ada. Bukan membuat hotel baru karena kami tidak tahu policy pemerintah gimana, perijinan gimana, dan tektek bengeknya. Hari presentasi tiba. Deg-degan luar biasa. Dosen-dosen ahli diundang untuk lihat rancangan kita. Dari semua aspek ada penilaiannya. Keuangan, Marketing, HRD, dan Productnya. Pintar ngeles dalam menjawab membantu kami cukup banyak. Hufftt satu hari sibuk terlewati.
Menjelang detik-detik pengumpulan skripsi, sekitar 3 bulan sebelum lah, aku ada masalah internal yang bikin drop banget. Sampai ga bisa makan, ga bisa minum, susah tidur. Sempet juga malah ga ngampus seminggu. Mau jadi apa coba?! Ckckckck. Tapi sekarang sih bersyukur masa itu udah lewat. Imbasnya, dulu untuk bisa makan, diajak makan terus jam berapapun. Kuliah pagi, siang bersihin kosan, sore main, malem makan, subuh pulang, tidur sampai jam 6 pagi, aktivitas lagi. Kayak ga pernah tidur. Nonton film marathon. Dan inget banget lah itu lagi puasa. Jadi buka dan sahur jarang dikosan. Formasi tetapnya ada aku, Elvo, Edwin dan Sabrina. Ada beberapa kali sahur sendiri dikosan masing-masing, ujungnya pasti diantara kita ada yang ga sahur. Jadilah kita sahur dan buka selalu bareng.
Support dari kawan deket selalu memacu semangat untuk nerusin skripsi sampai kelar. Ada Wiwi yang saingan sehat untuk sama-sama cepet lulus. Ada Elvo yang selalu sharing cerita. Ada Sabrina yang selalu menyediakan tempat kalau kita ngumpul. Ada Edwin yang keren olah data SPSS langsung valid dan reliable. Ada Puji yang semangatin dari jauh. Orang-orang yang berharga dan sangat membantu banget pas skripsi ada banyak, bener-bener ga cukup disebutin satu per satu apalagi hanya mengucap terimakasih. Tapi aku yakin Tuhan membalas kebaikan mereka :) AMIN.
Singkat cerita, saat menjelang hari H sidang, yang terdaftar hanya Wiwi, Edwin, Dewi, Sabrina tanpa Elvo. Karena Elvo memilih untuk yang sidang kedua. Aku menjalani hari seperti kalong. Makin sedikit tidurnya. Makin banyak pikirannya. Stress. Bingung. Gak Pede.Campur aduk. Kalian yang pernah melewati masa itu pasti tahu.
Dan eng ing eeengggg, hari H datang. Aku dapat di hari kedua. Hari pertama ada pembukaan sidang gitu, selesai pembukaan itu giliran Wiwi. Ini pun masuk dalam celetukan kami dulu. Wiwi berharap kalau sidang dapet yang pertama, sedangkan aku mending yang kedua. Tentunya ada alasan dibalik semua itu. Wiwi ga suka menderita nunggu, pengen yang pertama biar langsung lega meskipun deg-degan. Aku? Mending ada tumbal dulu, yaaa tapi aku ga suka nunggu juga. Jadi lebih milih yang ronde kedua, dan dapet kejadian deh di hari kedua.
Selesai upacara pembukaan, Wiwi jalan ke ruang sidang. Sedangkan kami yang saat itu peserta sidang juga, malah foto-foto. Bikin video buat ngucapin selamat lebaran, padahal lebarannya masih setengah bulan lagi, haha. Bersenang dahulu sebelum jadi pendiam nanti pas disidang :p
Sekitar dua jam kemudian, aku nunggu Wiwi keluar ruang sidang. OMG dia pucet banget. Meluk aku erat dan bilang dia selamat karena ada pembimbingnya didalem sebagai Pimpinan Sidang. Kita turut suka cita. Woah satu beban Wiwi hilang sudah. Tinggal aku besok entah gimana nasibnya. Seingatku, sorenya kami tetep buka puasa bersama dengan formasi tetap. Elvo berulang kali bawel jangan sampe kita begadang karena besok hari H aku. Sabrina sama Edwin dapetnya hari Jumat. Penghujung sidang gitu, jadi ada waktu dan menurutku sih makin jiper aja. Kebayang ga sih dengerin semua anak sidang yang baru keluar ruangan, hiiiiyyy. Tapi pada implementasinya sih, aku dipulangin subuh selesai sahur. Aku yang ga bisa tidur lagi karena kepikiran gimana entar, jadinya cuma belajar baca-baca kemudian buang lagi aja serakan kertasnya. Makin dibaca makin lupa gini, mending pasrah.
Aku sidang jam 10, dari jam 8 aku udah didepan ruangan. Asik dengan laptopku yang luar biasa, karena dia sembuh hanya pas sidang aja loh, mantap kan? Aku duduk dengan beberapa mahasiswa yang sama menunggu waktu sidang. Sampai datanglah godaan pertama. Pak Andre datang dan say hi lalu dia ledek-ledekin aku yang masih aja baca materi. Senyum jadi perisai utamaku. Nyengir jadi jawabanku. Bahasa udah lu gue sama Pak Andre, bikin beberapa anak noleh ke arahku. Heran kali mereka. Ga ngurusin juga sih. Dan datanglah godaan kedua, ketua  prodi aku. Dia nyemangatin dan bilang harus nurut sama penguji, jangan ngebantah. Kalau salah harus akuin salah. Asal ga ngejiplak mah santai aja. Kalian tahu, kalimat yang di bold itulah mungkin yang jadi penyelamatku.
Datang lagi satu dosen, Pak Ganef, yang udah diceritain sebelumnya. Dia keluar dari ruang sidang dan langsung duduk disebelahku. Nunjuk-nunjuk slide presentasiku, sambil bilang "Lu bikin apaan sih? Ga lulus loh kalau kayak gitu", dan keperawakan Pak Ganef ini emang serius, lagi-lagi bikin orang noleh ke kami. "Apus aja udah, ga beres bikinan lu." Lanjutnya lagi terus pergi gitu aja setelah aku balas, "Yaudah biarin aja, weeek." Selepas dia masuk ke ruangan lagi, mahasiswa itu pada nanya sama aku deh jadinya. Kenapa aku dibilang gagal, dibagian apa yang dibilang salah. Terus dengan geleng-geleng aku cuma bilang jangan percaya sama dosen stress. Tapiii, si dosen ini balik lagi, ngerecok lagi, ngerusuh lagi.
Daaaan, eng ing eeeeenggggg *tepuk tepuk drum* Ternyata Pak Ganef ini jadi pemimpin sidang aku. Well, did you know? Aku di bully. Penguji bilang mumpung puasa makanya mau baik sama aku. Pak Ganef bilang aku ga bikin dia paham apa yang dibahas. Terus dinyatakan ga lulus. Pas diruang sidang yaaa atmosfernya beda, eh dibilang gitu. Keluar ruang sidang langsung peluk Dewi sambil ngoceh berulang tentang : "Tau gitu gue kunciin lagi di lift itu orang", sampe menitikan airmata, hehehe. Kalau diinget ya lebay. Tapi ya lega. Tapi gimanaaa gitu. At least itu tinggal nunggu seminggu lagi mengenai hasil keputusannya. Leha-leha lagi, Nyemangatin yang mau sidang. Termasuk Edwin, Dewi dan Sabrina. Beserta teman lainnya.
Yudisium tiba, pas seminggu setelahnya. Mau nangis banget. Takut, deg-degan. Hari ini jelas kita bakal tahu lulus apa engga. Aku nunggu dengan khawatir. Begitupun yang lainnya.Kami didudukan per program studi. Saling pegangan tangan. Asli dag dig dug. Satu per satu nama disebutin, makin memuncak saat jurusan aku dipaparin hasilnya. Daaaannnn, kami semua peserta sidang pertama dinyatakan LULUS semua! Yeaaaayyyy, kami terharu.
Tahap selanjutnya (pernah ngeh ga sih ternyata skripsi itu prosesnya lebih panjaaaang daripada kuliahnya) adalah nunggu pengumuman apa saja yang harus di revisi. Pas lagi jalan ke bagian administrasi, aku disalamin oleh Edwin, "Selamat ya De, beruntung banget sih lu." Aku sukses melongo. Apaan sih yang beruntung? Sampai aku lihat sendiri bagaimana nama keberuntungan yang dimaksud Edwin. Papan pengumuman, tentang revisi. Namaku satu-satunya yang kosong. Tanpa apapun dikolom yang perlu di revisi.
Aku langsung dapat beberapa ucapan. Intinya selamat aku sangat beruntung tinggal kumpulin skrispinya aja tanpa perlu di apa-apain. Aku bengong sekali lagi. Entah kenapa aku justru merasa ini bukan kelulusan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin ada skripsi tanpa revisi? Ini mimpi. Kalaupun nyata, berarti ada kesalahan disini. Ada yang ga bener, ada yang ga wajar.
Segera aja aku cari orang-orang yang ada diruangan waktu aku sidang. Penguji dan pemimpin sidang. Diperjalanan aku ketemu sama pembimbing aku, aku tanyain kenapa bisa begini. Bukannya nenangin dia justru bilang ada yang salah kali. Dan makin was-was aja aku dengernya. Seketika aku nyariin dimana penguji aku. Setelah keliling kesana kemari, aku ketemu sama Pak Alex, salah satu pengujiku. Aku tanyain kenapa bisa aku ga ada revisi, dan dia bilang : "Loh bukannya bagus ya? Kamu kan tinggal nyantai." Aku cuma bisa menyuarakan kalimat "Tapi Pak," yang menggantung di udara. Selanjutnya aku nemuin Pak Ganef, a.k.a pemimpin sidang aku. Seperti biasa dia nyengir dan bilang seharusnya aku dapat 7 revisi, dimana kalau sampai angka segitu ya aku ga lulus. Karena mereka kasihan jadinya malah aku ga usah revisi aja. Sumpah ya kalimat si Bapak itu mendengung terus. Entah ada kalimat metafora atau engga didalamnya. Karena seolah aku ga lulus. Maksudnya kami sudah dikatakan lulus, tapi tentu aja belum valid, masih bisa ditarik gelarnya jika ada bukti yang bikin lulusnya ga sah. Lagipula kalau dipikir-pikir, misalnya harusnya ada 7 revisi, kenapa ga ada jejaknya sama sekali?
Aku makin galau gara-gara hal ini. Tidak tahu harus apa. Beberapa sudah aku rapihin skripsinya. Aku lihat yang lainnya revisi dan minta tanda tangan penguji, bukti bahwa sudah melakukan tugasnya. Sedangkan aku? Aku cuma tinggal kumpulin tanpa perlu tanda tangan penguji lagi. Menjelang batas pengumpulan, aku ketemu satu orang yang ga direvisi juga. Anak dari jurusan lain tetapi aku kenal baik. Dia tergolong anak yang rajin dan cerdas. Kalau dia ga revisi sih jelas aja, wong pinter kok. Eh, tunggu dulu, berarti aku juga bisa aja memang ga revisi sungguhan. Bukan merasa pinter, tetapi aku bukan satu-satunya yang tanpa skripsi. Wow! Kali ini aku agak lega. Aku langsung ke tukang print, karena aku ga bisa print sendiri. Lalu minta di jilid sama Abang fotocopy yang udah aku kenal, Om Kibo. Berhubung kenal, punyaku lebih diutamain, sesuatu yang menguntungkan juga sih hehe.
Setelah direnungin, mungkin aku dapat keberuntungan ini dari doa orangtua, doa temen-temen, doa pembimbing, dan nurut apa yang dia ucapain.
Dia nyemangatin dan bilang harus nurut sama penguji, jangan ngebantah. Kalau salah harus akuin salah. Asal ga ngejiplak mah santai aja
Sampai hari ini, detik ini, aku bersyukur atas itu semua. Semoga kalian yang baca ini, yang akan menghadapi skripsi, akan mendapat keberuntungan ini. Ucapan adalah doa :)
Hai, sudah lama juga aku ga post disini. 
Karena kebetulan kesibukanku adalah berkutat dengan license software dan karena aku kerja dengan Microsoft, maka kali ini pembahasannya adalah mengenai CAL.


Server digunakan untuk menyediakan piranti lunak di dalam jaringan untuk berbagai kebutuhan tertentu misalnya untuk keperluan file dan print sharing. Agar Anda memperoleh hak penggunaan atas piranti lunak yang terdapat di dalam server tersebut secara resmi, maka Anda membutuhkan lisensi yang disebut dengan Client Access License atau CAL. CAL bukan merupakan nama sebuah piranti lunak melainkan suatu lisensi yang memberikan hak bagi seorang pemakai untuk mengakses piranti lunak yang terdapat di dalam Server.

CAL ini biasanya terbagi dua yaitu User CAL dan Device CAL. Terkadang customer bingung dengan perbedaan keduanya, karena selintas tampak sama. Dan terkadang customer juga salah membeli CAL karena tidak terlalu paham fungsi keduanya.

Dengan membeli User CAL, maka perusahaan membeli CAL untuk setiap user yang akan akses ke server untuk menggunakan servicenya seperti file storage atau print, tidak tergantung dengan jumlah device yang mereka gunakan untuk mengaksesnya. Pembelian User CAL ini cocok untuk perusahaan yang memiliki user dengan kebutuhan roaming access ke network perusahaan menggunakan multiple device, atau dari unknown device, atau memiliki banyak device di perusahaan.

Sedangkan dengan membeli Device CAL, maka perusahaan membeli CAL untuk setiap device yang akses ke server, tidak tergantung dengan jumlah user yang menggunakan device tersebut. Device CAL akan lebih ekonomis jika user di perusahaan itu kerja dengan sharing device, untuk contohnya adalah karyawan yang kerja shift. Karena devicenya mereka gunakan bersama, sehingga pembelian CAL lebih tepat jika memakai Device CAL.

Atau jika penjelasan ini kurang lengkap, ada pembahasannya di Client Access Licenses and Management Licenses
Dan untuk perhitungan license yang tepat untuk perusahaan, kita bisa menggunakan CAL Decision Tool 
Dalam link tersebut, kita hanya perlu mengisi jumlah user di perusahaan dan memasukan jenis license yang saat ini digunakan di perusahaan. Bahkan jika kita tidak tahu jenisnya, di akhir result akan disimpulkan jenis CAL mana yang sesuai dengan kriteria perusahaan kita.

Semoga artikel ini bermanfaat.
Selamat akhir pekan! :) 
Mereka bilang hari ini hari ayah.
Haruskah ku katakan padamu kata "selamat"?
Ah tentu saja tidak cukup.
As your little princess, papa selalu membangunkanku setiap pagi dengan senandung kecil. Meledekku yang masih mengucek mata karena kantuk melanda. Menggelitikiku jika isengmu kumat. Bahkan pernah menyemprotku dengan semprot tanaman hanya agar aku terbangun.
As your little princess, papa selalu ingin aku menjadi anak pandai. Seringkali di pagi hari, aku terbangun menemukan info terbaru mengenai dunia yang kau print saat kerja shift malam. Seringkali kau sengaja menonton berita agar setidaknya aku mendengar dan melihat bagaimana dunia diluar sana.
As your little princess, papa selalu mengharapkan yang terbaik untukku. Soal lelaki, wuih jangan tanya, engkau pasti menyeleksi ketat orangnya. Bahkan pernah kudengar engkau akan mengetes lelaki beruntung tersebut dengan mengaji. Tujuannya tentu saja agar bisa menuntunku, sepertimu. Agar bisa mengajakku dalam kebaikan akhirat, tidak hanya dunia.
As your little princess, papa selalu mendukungku apapun yang terjadi. Saat aku belum kerja, papa mengijinkanku untuk mendaftar dimanapun tempat yang aku suka. Saat aku kerja tetapi begitu menyita waktu, papa menyarankan untuk mencari yang lebih baik. Saat aku ingin kuliah di Bandung, jauh darimu, engkaupun mendukungku. "Karena universitas itu lebih jelas ada masa depannya", katamu saat itu.
As your little princess, papa selalu memanjakanku padahal aku anak pertama. Aku satu-satunya princessmu. Selain ratu lebah tentunya, yaitu mama. Kedua adikku semuanya lelaki sehingga mungkin kau memanjakanku dengan tidak membelikanku boneka. Karena menurutmu anak yang suka manjat pohon sepertiku lebih layak dibelikan buku. Tentu saja karena kau tahu aku suka menulis. Aku cinta membaca. Pernah sekali waktu kau belikanku boneka, langsung yang paling besar. Senyum simpul pun mengembang sempurna dari wajahku.
As your little princess, papa selalu melindungiku. Aku yang suka nakal pulang dari Bandung tengah malam, dan kau setia menjemputku di terminal. Atau sms singkatmu yang mengatakan hati-hati jangan lupa sholat. Ah betapa beruntungnya aku masih bersamamu. Betapa sayangnya aku bisa menjadi putrimu. Betapa bersyukurnya aku masih bisa mencoba membalas
Oleh karena itu, kurasa kata "selamat hari ayah" saja tidak cukup ku tulis. Tidak akan cukup untuk ku ucapkan. Sama halnya dengan hari ibu. Bagiku, dengan atau tanpa hari tersebut, aku tetap mencintaimu. Dengan atau tanpa hari itu, aku bangga menjadi putrimu.

With love,
Your little princess...

Woaaah selamat pagi. Saat ini saya lagi berdiri di bus 157 tetapi gatel mau nulis. Jadi yaa kalau ada typo-typo dikit gapapa lah yaaa~
Terhitung sejak 2 Juni 2014 saya sudah menjadi employe lagi. Yeaaay. Meskipun nyebrang haluan yang sebenernya ga begitu nyusahin juga sih. Soalnya sekarang aku di perusahaan IT. Haha untuk orang yang mengenal saya dengan baik pasti bilangnya aku emang terjerat dunia IT (setelah beberapa kali bersinggungan dengan anak ITnya tentu saja).
Terjun ke dunia IT, saya merasa familiar sekaligus ga familiar sama sekali. Istilahnya, nama produknya, jaringannya, jenis-jenisnya, dan sebagainya. Saya perlu belajar lebih banyak lagi. Saya harus cepet bisa. Karena saya nantinya jadi spv. Aahh iya saya di divisi security & storage. Berkubang dengan antivirus, backup, encryption, dan sodara-sodaranya, hihi.
Hari pertama, saya keliling dan mengenalkan diri ke semua orang. Yaa ga semua juga sih. Soalnya saya ga ke lantai 4 bagian ITnya. Saat itu juga saya punya kenalan Teh Amel, divisi spv marketing. Kita harus siap untuk customer. Kita harus siap untuk perusahaan. Belum apa-apa kami merasa apa yang kami pelajarin 50%nya mental hihi. Hari kedua saya udah berbaur. Mendekati orang-orang yang selantai sama saya. Yang jualan, saya beli barangnya. Yang main game, saya nimbrung di gamenya. Yang pernah ke Bandung, saya ajak ngobrol tentang kota cantik itu. Beberapa cara yang penting saya mengenal mereka. Bahkan saya menemukan dua orang yang bisa satu bus sama saya untuk pulang. Dan tadaaaa. Hari ketiga ini exam saya atas nama nama productnya. Semoga nanti saya bisa huhu.
Ditempat kerja yang sekarang asyik. Asuransi ada. Tenggang rasa beragama juga ada. Punya waktu buat beribadah. Pakaian yang penting sopan. Uang transport+makan juga tersedia. Dan office hour ayeeaay. Bagi kalian mungkin biasa. Tetapi diduniaku office hour itu like a dream. Apalagi sebenernya passion saya di bagian serving best for the best. Saya lebih suka yang menghadapi customer langsung. Saya lebih suka yang banyak tantangannya. Karena saya ingin cepat berkembang. Saya merasa bahwa dengan tantangan lah kita bisa tergerak untuk kreatif tegas dan tanggap. Waduh pagi-pagi udah berat aja bahasanya.
Rupanya menulis saat berdiri dibelakang supir bus dengan kondisi melaju seru juga. Untung ga nyungsep atau hapenya jatuh pas ngerem. Bahaya kalau gitu haha. See yaa my blog. Seneng rasanya bisa ngisi blog ini ♥
With love
Marya Ulfah Arrossi, S.Par
(Nama baru mentang-mentang abis wisuda)

Sekarang mungkin aku bukan apa-apa. Masih dipandang sebelah mata. Lima atau sepuluh tahun lagi orang-orang akan lupa. Bukan seseorang yang menjadi pahlawan. Bukan pula seseorang yang menjadi jutawan.
Berbekal impian. Berpegang harapan. Selalu berusaha disamping berdoa. Aku perlu menjadi seseorang. Tidak perlu dikenang tetapi pernah meninggalkan kesan. Tidak perlu dipuja tetapi pernah ada untuk orang yang membutuhkan.
Aku hanya ingin berguna. Tidak hidup dalam sia-sia. Aku hanya ingin mereka memaafkanku untuk semua kesalahanku. Aku tidak sempurna tetapi bukan berarti aku tak mau berusaha. Aku akan lakukan yang terbaik. Untuk selalu memperbaiki diri. Untuk selalu belajar. Untuk menjadi seseorang.
Tunggu aku.
Tapi jangan hanya melihat hasil upayaku.
Lihat prosesku.
Lihat bagaimana aku jatuh bukan hanya saat aku mengibarkan bendera kemenangan.
Lihat bagaimana aku menangis bukan hanya saat aku tertawa.
Lihat aku dan perjalananku menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari saat ini ♡

Hai blogger.
Kali ini saya mau membahas tips menjawab wawancara. Agak aneh ya saya angkat topik ini sedangkan saya malah lagi nganggur, hihi. Tapi gini-gini saya punya pengalaman wawancarain orang. Berikut hal yang harus diperhatikan selain pakai baju formal dan parfum secukupnya :p
  • Pastikan punya jawaban yang baik saat ditanyakan mengapa memilih pekerjaan tersebut, karena akan disangkut-pautkan dengan pendidikan maupun pengalaman yang Anda punya. Ditahap ini pewawancara akan memperhatikan potensi dan minat Anda. Love your job, but don't love your company, begitu ceuk batur mah hihi.
  • Pastikan bahwa Anda tahu dengan baik 5 kelebihan dan 5 kekurangan Anda dalam kemampuan maupun sehari-hari. Dari kelebihan yang Anda punya, bagaimana Anda mengenalinya juga mengelolanya agar terasah semakin baik, agar semakin bermanfaat. Sedangkan dari kekurangan yang dipunyai bagaimana Anda meminimalisirnya dan mengubahnya agar tidak mengganggu keseharian Anda.
  • Kemudian Anda akan dilihat apakah tepat ditempatkan back office (yang tidak berhubungan langsung dengan customer/orang lain) atau di frontliner (yang berhubungan dengan customer/orang lain). Hal ini untuk memastikan bahwa Anda bukan seseorang yang memilih frontliner namun seringkali gugup untuk berhadapan dengan orang lain. Maka tahap ini berguna agar Anda memilih tempat yang sesuai dengan karakter Anda.
  • Sebaiknya Anda bisa mengenali diri Anda bisa bekerja dalam team atau individu. Karena ada beberapa pekerjaan yang memerlukan kerjasama team, ada juga yang butuh fokus kerja indivdual. Bisa juga kedua hal itu imbang, memerlukan kerjasama team sekaligus fokus diri. Semua terserah Anda. Kenali dengan baik diri Anda sehingga dapat mengetahui tipe seperti apa yang cocok dengan Anda.
  • Pastikan Anda menjawab pertanyaan dengan tegas, singkat dan jelas. Karena saat saya dulu interview orang lain, saya menilai caranya berpakaian, caranya menjawab, caranya melakukan kontak mata dengan saya, ataupun sikapnya selama interview. Hal ini ada poin tersendirinya dalam penilaian saya. Yang saya cantumkan dalam note kecil untuk disampaikan kepada HRD nantinya.
  • Dan Anda pasti dilihat bagaimana willing to learn, to innovative, and to be creative. Semua akan bertujuan pada bagaimana Anda pandai menampilkan sisi positif yang dimiliki dengan pertanggung jawaban yang sesuai. 
  • Terakhir namun bukan berarti semua berakhir, selamat "menjual diri" Anda di perusahaan yang Anda inginkan. Selalu positif dan berusaha sebaik mungkin. Good luck...
Sekian aja sih tipsnya. Bukan patokan mutlak loh yaaaa. Tapi sebagian besar sik begitu. Disadari atau engga, biasanya kita terlalu gugup untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya mudah. So, persiapkan semua dengan baik dan tenangkan diri. Seimbangkan doa dengan usaha :)
Selamat malam...

Nemu gambar di Pathnya Adina a.k.a Nay tulisannya persahabatan bagai kempompong, kadang kepo kadang rempong!
Kalau dipikir-pikir bener juga sik. Kadang kepo bersama. Kadang rempong bersama. Tapiii kalau kita yang dikepoin dan dirempongin?
Aku baru aja ngerasain nih. Dirempongin temen sendiri. Kadang mau banget bilang, "Ngapain lu ribet sama hidup gue, kan gue yang jalanin." Rasanya gimanaaa gitu kan. Kita pemeran utamanya, kenapa mereka yang sibuk hafalin naskah. Kita yang akan melakoni peran, kenapa mereka yang ngatur skenarionya.
Sore kemarin, aku menjelma jadi makhluk rempong juga. Mempublish obrolan grupnya orang lain di akunku. Mereka ga sebut nama, tapi aku tau siapa yang mereka maksud. Yaitu Aku. Jadi aku carikan alasan untuk mereka bisa leluasa ngomongin aku karena aku memang salah melakukan perbuatan tercela. Jadi mereka ga usah nyari topik karena aku yang ngasih mereka topiknya. Perbuatanku.
Jika mereka jeli, mereka harusnya tau, aku ga ngusik mereka. Mereka duluan yang mengusikku. Aku ga ada urusan sama mereka. Mereka duluan yang mencampuri urusanku. Jadi karena aku sudah mengusik dan mencampuri obrolan mereka maka aku tak akan syok lagi jika mereka memilih untuk bisik-bisik.
Pemikiranku dan tindakanku salah. Iya aku tahu. Tetapi apalah artinya manis didepan ngebusuk dibelakang. Lebih baik semua orang di akunku lihat bahwa inilah aku yang membusuk. Dan bersyukurlah atas hilangnya seluruh kontak hapeku makanya kupilih kekejaman cyber world.
Salam hangat
New little bastard -Marya-

Ga terasa sudah sebulan aja tanpa kerjaan. Selama sebulan ini aktif nyari pekerjaan. Panggilan demi panggilan datang tetapi mungkin belum jalannya sehingga sampai sekarang belum keterima. Tapi ga sekalipun nyesel keluar dari perusahaan yang lama. Aku dengar disana semakin menggila. Semalam puncak kesalnya aku. Ada ex-partnerku sesak nafas, aku kalang kabut nyari orang buat ngeliatin kondisinya dia. Dan, setelah dia bisa bernafas kembali, dia tetap diharuskan menjaga toko. Gila!
Kembali lagi ke topik penggangguran. Bosan loh tidak kerja begini. Biasa wara-wiri. Biasa ada deadline. Dan biasa ada pemasukan :( Apalagi pengen banget bantu orangtua. Semoga dan semoga, ini ga berlangsung lama. Semoga besok udah kerja, amin...

Selamat pagi
Mendung menyapa langit sejak subuh atau mungkin sejak tengah malam. Yang ku lihat saat ini dari kaca bus hanyalah jalan raya yang basah dan kemacetan lalu lintas.
Aaahh begitu sulitnya menggunakan handphone ini untuk mengetik. Seminggu yang lalu young hilang. Hmm lebih tepatnya terjatuh. Bukannya aku tak sayang, tapi kalaupun toh aku menelusuri ulang jalan yang ku tempuh, aku mempunyai peluang menemukannya 45% dan jika masih dalam keadaan utuh mungkin hanya 30%. Karena itu malam hari dan jalanan penuh dengan kendaraan yang ngebut.
Pagi ini masih sama seperti hari sebelumnya. Membuat semua nyaman untuk terlelap lagi. Tapi aku menyambut hari untuk menjemput rejekiku. Jadi, selamat pagi :)

Sejak Blackberry nawarin fitur BBMnya di android dan IOS, nampaknya semua jadi pemburu berita paling handal. Kapan rilisnya. Terus apa aja requiresnya. Hape apa aja yang support. Wuih pokoknya harariweuh lah yah.
Dari dua hari lalu, membludak followersku gara-gara BBM ini. Ulah @apk_file yang ngetwit aku dan Daza mau ngusahain BBM untuk gingerbread. Voilaaa seketika mention kami jebol. Doa juga semangat mereka mengiringi kami. Padahal kami ga ngapa-ngapain. Kami cuma coba-coba BBM di wondernya Daza. Kalau young aku sih jangan ditanya. Di root aja engga. Apanya yang mau pake BBM.
Tadinya sih kami mau ngetes aja share pin BBnya untuk beberapa orang, so aku ngaku-ngaku bahwa pin itu punya aku padahal punya Daza. Eh disangkanya aku pake BBM dari Galaxy Young (GT S5360) makanya pengguna young langsung deh ramai menyerbu aku pertanyaan. Buka twitter jebol mention. Buka whatsapp penuh jyga, apalagi di grupnya. Line pun sampe banyak juga yang tanya. Gileee wabah BBM ini sungguh luar biasa penyambutannya. Android rasa BB yah hahaha.
Karena aku share pin itu juga, admin @soalANDROID yang salah paham (disangkanya aku pake young buat BBMnya) bikin twit yang bilang kalau mau young bisa BBM mintanya ke aku aja. Beeuuuh jadi aja followers dia yang pake young meramaikan mention. Mimin Destroy ga kesian kali ke followersnya yang pada ngarep, malah semacam ngasih harapan kosong, kan harusnya cek dulu aku pake apa BBMnya huhuhu. Meskipun, hmm, yaaa kabar terbarunya di GB udah bisa walau FC (Force Close) terus.
Lucunya, mungkin karena aku emang ga maniak BBM kali yah, atau karena belum ngerasain asiknya BBMan, jadi aku cuek-cuek aja. Menilai bahwa toh sabar kunci dari semua ini. Bentar lagi juga pasti ada yang portingin. Bentar lagi juga bisa untuk young dan armv6. Tinggal tunggu aja. Iya sih paham, pengennya pas rilis udah langsung punya. Pengennya ga ketinggalan gaul. Tapi aku rasa sih (in my opinion only) dunia ga akan berenti muter kalau BBM belum ada di hape kalian. Ditambah sama yang follow aku karena nunggu kabar BBM. Jelas-jelas itu akun pribadi, jadi pastilah banyak twit geje dan ocehan aku yang ga penting. Kadang kesian buat yang baca, tapi aku juga ga maksa minta di follow. Udah mah pas ada yang follow sama unfol ada notifnya dari twit client yang aku pake. Sekarang tiap buka twitter notif balapan. Padahal aku bukan siapa-siapa. Aku bukan figur apa-apa. Saat ini aku masih nyaman sama whatsapp. Abis bagiku fiturnya sama aja. Toh palingan dia dia lagi, orang yang itu itu lagi juga di contactnya. Nambah beberapa mungkin dari yang real user BBnya. Cuma ya nyamannya orang aja sih yah maunya pake sosmed yang kek apa.
Semua ini karena demam BBM untuk android hahaha~ after all,
Selamat ber PING! Ria kalian para android dan IOS :D

Bisakah kita bertahan dalam sekian banyak cobaan dan godaan didepan nanti?
Ketika segala hal tidak terprediksi dalam bayangan kita. Atau bahkan dalam mimpi kita.
Bisakah kita bertahan ketika semua hal berjalan tak mulus. Atau bahkan ketika segala hal berjalan terlalu mulus?
Sayang,
Untuk usia kita yang mungkin bisa dikatakan baru beranjak dewasa, kita dituntut untuk lebih kuat dalam segalanya. Ketika kita jatuh, kita harus bangun kembali. Ketika kita terlupa, kita harus mengingat kembali. Ketika semua tidak terkendali, kita harus bisa menghadapinya.
Sayang,
Jangan hanya ketika masalah datang kita baru ingat kepada-Nya. Tetapi juga saat kita sedang tertawa. Sedang bersuka. Sedang bahagia. Karena kita tak pernah tahu bagaimana kita diuji. Bisa dengan kesenangan. Bisa juga dengan kesusahan.
Sayang,
Jika hatimu sudah yakin akan diriku, maka jalani semua ini bersamaku dalam jalan-Nya. Aku yang akan selalu berusaha memantaskan diri untuk menjadi pasangan yang solehah. Dan kamu yang berusaha untuk menjadi imam dalam keluarga kecil kita nanti.
Sayang,
Aku tahu kita masih belajar dalam saling memahami. Maaf jika aku masih belum begitu paham amarahmu nanti. Maaf jika aku masih belum pandai membuatmu tersenyum karenaku. Maaf jika aku belum telaten merawat luka yang ada dalam dirimu. Maaf jika aku masih belum mengerti apa yang kamu mau, apa yang kamu harap dan apa yang kamu inginkan untukmu, untukku, untuk kita.
Sayang,
Aku sangat bersyukur kamu ada untukku. Terimakasih karena selalu ada. Terimakasih karena telah setia. Terimakasih sudah menjadi pendengar yang baik untuk ceritaku. Terimakasih sudah menghadirkan senyum dalam hari-hariku. Terimakasih untuk mengusap airmataku. Terimakasih untuk mengajakku bersamamu.
So please stay here. Stay near.

This post belong to my future ♡

Semua berawal dari hari Senin pagi yang tadinya biasa aja. Cuma sempet kaget kalau ternyata aku halangan dua kali (lagi) untuk bulan ini. Darah rendah entah gimana kabarnya deh.
Lalu aku nyempetin diri untuk memejamkan mata. Lumayan dari jam 9.00 sampe 09.30 kan. Pas bangun udah agak ga enak  badannya. Pusing. Pegang kening panas. Yaaahh sakit deh (´O`ƪ)
Udah tau kayak gitu nekatlah berangkat. Ke Islamik naik bus 34 jurusan Blok M ke Bursa Efek Jakarta. Aku yakin cuaca diluar panas. Tapi bahkan aku ga keringetan sama sekali. Baju dobel 3 loh padahal. Ya namanya sakit kali yah.
Nyampe BEJ, timku lagi riweh dengan kerjaan. Aku cepet siap-siap untuk bantu. Cuma aku ga bisa nunduk sama sekali. Kalau nunduk duniaku bisa berputar ga keruan deh. Jadilah seharian itu aku duduk atau tiduran di lantai. Soalnya kalau aku gerak kerja malah dimarahin. Katanya aku istirahat aja. Aku tiduran sambil ngalor ngidul di twitter *orang sakit macam apa aku ini* Malem masih nekat pulang sendiri naik bus 45 biar turun islamik. Agak gaya dikit dibawah bulan purnama di lampu penerangan jalan aku nunggu angkot haha. Tapi berhubung aku cewek sendirian, waspadanya aku tingkatin 1000%. Bener aja abangnya rese. Masa sengaja nyentuh tangan aku coba --" dia pikir aku sabun colek kali. Aku marah-marah tuh dijalan gegara itu. Di angkot satunya lebih nyebelin lagi masa pake salam buat mama segala. "Helooo siapa eloo??!!" Huh bete macem-macem aja. Dia pikir kalau aku sakit terus diem aja ga akan marah kali.
Sampe rumah rupanya papa masih melek. Seketika nyesel ga nyoba telpon dan minta jemput. Terus curhat lagi sakit. Terus ngadu aku besok boleh ga kerja asal berobat ada surat dokter. Terus disuruh tidur dan keesokan hari pun datang.
Pagi-pagi Daza dateng jam 10an. Dia minta aku untuk ga berangkat. Katanya aku masih keringet dingin dan dia bisa stress kalau aku masih nekat kerja sedangkan lagi sakit gitu. Dia ngurut-ngurut kaki aku sambil diliatin buat mastiin aku ga parah sakitnya. Aduh (´⌣`ʃƪ) hihi. Daza juga nawarin diri untuk anter berobat. Jadilah siangnya kami ke klinik. Dokternya sih bilang aku itu sakit karena kecapean dan stress. Darah aku cukup rendah rendah 100/70. Terus aku ditanya punya alergi obat apa engga. Setau aku kan ga ada dan aku fine aja. Jadi selesai lah pemeriksaan itu setelah dibuatin resep obat dan surat dokter. Baru aja duduk udah ditanyain Daza udah ngomong apa aja sama dokternya. Calon imamku ini emang detail banget orangnya. Pas kan disandingin sama aku yang rada pikun ini hihi. Dia ngajak beli bubur ayam pas obatnya udah berhasil ditebus. Muter perum banget dah dari malabar - harkit - eh nemunya di pam ahaha. Sekalian juga Daza beli es campur yang katanya untuk mama. Yowes aja kami beli terus pulang kerumah. Kamal udah dirumah dan nolak untuk minum esbuahnya lalu milih tidur. Aku sih makan buburnya aja berdua sama Daza. Aku minum obatnya, yang ada dua macem. Satu buat nyeri satu vitamin gitu. Beres makan kami asyik nyoba BBM untuk android. Aku ngaku-ngakuin BBMnya dia. Katanya Daza sih coba aja sebar pin dia trus bilangnya itu punya aku. Biar tau siapa aja yang modus. Tapiii gara-gara itu pula dikiranya galaxy young bisa buat BBMan padahal aku nyobanya di galaxy wonder. Dikerjain dua akun android itu ga asiK. Mention jebOl. Followers membludak. Tinggal berharap pada cepet-cepet unfol aja daripada mereka nyesel hahaha.
Jam 5 sore Daza pulang barengan mama yang baru dateng. Kesian deh Daza dikasih senyum dikit gegara mommy lagi ambek karena telat dijemput kamal. "Sabar yah sayang itu bukan jutekin kamu kok" dalem hati telepati ke Daza. Dan setelah Daza pulang, mommy asik dikamar, kamal cuma lalu lalang, ai main game. Aku lagi duduk mau iseng pake lotion. Tapi badanku panas dan perih. Aku bentol banyak banget. Aku pikir digigit nyamuk kan karena tadi diruang tamu emang banyak banget nyamuk. Sampe disuruh mandi aku gegara bentol diwajah, kali aja kan kalau udah wangi ga digigit lagi :p
Aku masuk kamar mama nunjukin semua bentol itu yang akhirnya ditarik kesimpulan aku alergi. Aku heran alergi apa. Aku cm makan bubur - minum obat - nyolek es buah - makan roti. Udah gitu aja. Lalu pikiranku kembali ke pertanyaan dokter yang nanyain apa aku alergi obat. Wew jangaN-jangan aku alergi obat. Duuuh ampun. Aku langsung minta anter kamal. Selesai maghrib aku cuuss klinik. Untung kosong dan aku langsung masuk ruang periksa dengan dokter yang sama. Kondisi aku tangan merah banget lalu pucet kemudian. Bengkak wajah sama badan. Sisanya ruam merah bentol gede. Panas. Perih. Aku sampe ga bisa genggam, ngomong bahkan melek susah. Jantung debar-debar kenceng. Sedih rasanya.
Dokternya malah ikut keliatan frustasi. Dia ga paham aku kenapa. Aku emang ga alergi obat yang dia sebut analgic atau apapun itu. Karena sebelumnya aku biasa aja minum ponstan. Dia nyimpulin biomeganya yang bikin aku begitu. Maka disuntiklah aku. Berharap 30 menit kemudian aku gapapa. Aku dikasih obat alergi dan nebus obat lagi bayar lagi. Huhuhu. Selesai itu semua aku bangun dari tempat aku tiduran. Aku gugulingan diklinik sampe dokternya iba. Cuma entah kenapa pas mau pulang kan bangun aku, eh dunia burem dengaN kepala rasa ditusuk daN hampir pecah. Alhasil gabruk lah aku depan klinik. Kamal panik turun dari motor ngebopong aku dari lantai ke motor. Dan dia buru-buru bawa aku pulang. Sesampenya dirumah aku tidur. Bener-bener tidur. Kebangun pas papa pulang. Udah 30 menit rupanya aku tidur tapi ga sepenuhnya sembuh. Sakitnya masih. Merah tangannya juga. Cuma udah agak bisa genggam tangan. Udah kempesan bengkak diwajahnya. Aku disuruh makan sama mama papa. Yauda makan terus minum obat terus tidur lagi. Sempet sih main hape bentar ngabarin Daza.
Subuhannya aku udah mendingan. Kulit masih perih kalau ga sengaja kesenggol. Ruam merahnya masih kesisa. Badan masih anget. Cuma karena kemarin aku bener-bener marah gegara Charlie disuruh longshift, alhasil aku mending nekat kerja. Dan berangkatlah aku. Dengan harapan ga aneh-aneh dikerjaan. Badannya sih udah lumayan bisa dibawa. Cuma mual sama pusing dan panasnya yang terkadang ga nahan. Fiuuuhhh sakit itu ga enak loh. Bayar obat. Bayar dokter. Apalagi sekarang malah alergi obat. Hadeeeuuh ada-ada aja. Semoga setelah ini aku sehat kembali. Soalnya sampe sekarang masih greges rasa badan tuh. Huhuhuhu. Get well soon. Get well really soon. (˘ʃƪ˘)

Hal yang paling sulit dalam hidup ini adalah menentukan kapan kita ingin berhenti dan mencoba jalan baru atau diam sejenak mencoba bertahan lalu berjuang kembali. Itulah yang saat ini aku bingungkan. Tidak tahu harus bagaimana. Mungkin didepan sana ada harapan jika aku bertahan. Aku hanya perlu berusaha dan bersabar. Tapi mungkin juga disana tidak ada apa-apa alias zonk dimana aku hanya menyia-nyiakan waktu. Dan bila itu terjadi, entah bagaimana juga perasaanku.
Saat ini, aku bimbang soal kerjaan. Apa harus resign? Apa harus bertahan? Sampai kapan aku kuat? Hanya tiga pertanyaan itu yang berkecamuk. Tetapi jawabannya jelas sangat menentukan diriku dikelanjutan hari nanti. Bahkan mungkin mulai detik berikut. Aaahhh~ Can i take it? Or should i leave it?

Kita ga pernah tahu misteri kehidupan akan membawa jalan kita kemana arahnya. Bisa jadi sekarang kita nyaman dengan sesuatu hal lalu kemudian esok akan benci dengan hal tersebut. Atau mungkin sebaliknya. Yang pada intinya kita akan sulit menebak dengan pasti perubahan alur kehidupan ini. Mempunyai firasat, ya bisa jadi. Mempunyai gambaran, tentu saja, tetapi tak selalu 100% benar.
Untuk kehidupanku, celetukan yang keluar dari mulut ini lah yang sering menjadi pewarna dalam kisahku. Justru apa yang ku prediksi sekilas yang tetiba jadi nyata.
Hal simpel aja waktu aku nyeletuk sama dosenku, Pak Ganef. Bapak gahoels yang enak cara ngajarnya pun banyak ilmunya. Dia bilang kalau sampe nanti pas sidang ketemu aku, bakalan diangkat kertas sidangku dibuka-buka halaman secara acak terus dia mau bilang "Apa-apaan nih skripsi. Gue ga ngerti. Udah lu revisi aja". Aku cuma senyam-senyum aja kan. Aku jawab, "Terserah lu aja dah Pak. Pasrah gue kalau lu yang nyidang." Dan tadaaaa! Dia jadi pemimpin sidang aku. Terus dia beneran ngomong kata-kata itu dong. Saat itu aku beneran pasrah banget. Habis mau gimana lagi. Tapi hikmahnya aku ga ada revisi dong setelah sidang :) hihi. Thanks Pak Ganef.
Ada lagi dulu pernah ngobrol-ngobrol sama anak kelas. Topiknya mau kerja dimana. Lalu aku inget selalu bilang : "Kalau kerja di hotel, aku takut. Ga banyak tau juga. Mending di bakery aja. Atau buka toko kue bareng mama." Sepertinya saat aku bilang itu, malaikat mengaminkan kata-kataku. Soalnya, tepat seminggu lalu aku resmi jadi bagian bakery Pane Del Giorno. Sejauh ini aku nyaman dan suka banget sama kerjaanku. Rekan kerjanya baik, salah satunya malah sahabat karib di kampus, namanya Robiatul Adawiyah alias Wiwi. Dulu juga pernah tuh nyeletuk kita akan kerja bareng. Eh sekarang beneran deh hihi :')
Kayaknya setelah ini harus hati-hati dan ucap yang baik-baik aja. Benar kata orang yang bilang "Ucapan itu adalah doa". Selamat siang :)

Is it my turn? I said is it my turn?
Ketika semua hal begitu berbalik. Senyumku yang mulai sering menghiasi hari. Kepercayaanku yang mulai terbangun. Aku hanya perlu menyakinkan diri bahwa ini semua untukku.
Benarkah ini untukku? Dirancang dan ditakdirkan untukku.
Aku bertahan dengan ikut merasakan kebahagiaan orang lain agar diriku juga bahagia. Saat ini aku bahagia dengan jalanku sendiri. Aku memang ingin bahagiaku, yang dirancang dan ditakdirkan untukku. Egoiskah? 

Kali ini bude -si pemalas posting- mau cerita sedikit tentang kisah tahun lalu. Bukan ga bisa move on sih tapi pengen aja sharing pengalaman *tsaaahhh*. Dan ini juga bukan kisah sedih di hari Jumat 10 Februari 2012 lalu karena tergantung persepsi orang yang baca postingan ini sih, haha. Oke daripada banyak omong mending langsung ke kisahnya.
*flashback di Jumat, 10 Februari 2012*
-Bagaimana semua ini bermula-
Hari ini entah kenapa aku males banget beranjak. Pelajaran hukum bisnis yang dibayangi banyak tugas baik yang harus dikumpul ataupun mau dikasih nantinya bikin makin males. Tapi kali ini beda, malesnya bukan karena hal itu aja, kayaknya memilih mending dikosan. Dan bener aja setelah jumatan hujan besar banget. Aku yang masuk kuliah pukul 13.30 cuma bisa melenguh pelan mengingat seragam sehari-hari harus kudu wajib dipadankan dengan heels. Huaaahhh akan tambah bawaan nih, ga mungkin juga becek-becekan pake heels. Jadi aku pilih nanti pake sandal jepit aja.
Aku sebenernya siap dari jam 12.00 dan selesai solat langsung siap-siap ngampus. Cuma yaa hati ini tetep males ke kampusnya. Akhirnya aku memilih untuk sms ke tiga orang seolah mau minta persetujuan untuk ga kuliah *eehh*. Becanda deng, aku cuma mau curhat aja pengen kuliah tapi males tambah hujan deres yang tampaknya awet diluar sana. Aku sms ke mama, Puji dan Jenong. Puji ngewanti-wanti untuk bawa payung. Sedangkan mama sama Jenong belum bales. Tapi ada Laras -yang ternyata sehati males berangkat juga- sms ngasih tau dia belum berangkat dan ntar-ntaran aja berangkatnya.
Aku memantapkan hati untuk berangkat. Pake sandal, seragam batik, tas ransel batik -juga- sama payung lucu warna ungu *harus banget gitu ngasih tau warnanya*.  Aku yang biasanya bawa laptop menjadi enggan bawa dan membiarkannya tergeletak di lantai. Hari ini cuma bawa binder, dompet, headset, sama heels di ransel. Dan turunlah aku dari kosan dengan semangat dibawah 0 derajat celcius. Bapak kosan yang kebetulan pas-pasan sama aku nanya gini : "Neng mau kuliah? Atuh hujan gini, didepan banjir." Aku cuma bisa cengengesan aja bilang "Iyah" dengan hati bilang "Engga pengen kuliaaaahhh :( ." Bapak kosan ngejawab : "Yauda hati-hati, didepan sana jalanannya banjir." Dan aku mengindahkan firasat serta wejangan itu dengan menganggap kuliah itu penting. Hujan aja ga bisa mengalahkan tekad ini *beeuuhh*.
Lalu aku berjalan keluar gang. Voilaaa ini jalan raya apa sungai? Jalanan Sukajadi dan Setiabudhi mendadak jadi sungai gini. Aku naik angkot dan celingukan. Gimana nanti didepan kampus? Aku tahu banget kampus juga pasti jalan rayanya tergenang. Huhhh terlanjur kepalang berangkat juga kan. Di sebrang borma aku lihat ada motor kebawa air bah itu sampe tiga motor dengan pengendaranya yang berusaha sekuat tenaga mempertahankan motornya dan supaya ga ngikut hanyut juga. Lalu entah kenapa aku nyalain data paket terus buka twitter dan nge-DM @infobdg untuk bilang ke #cuacabdg kalau tweeps harus hati-hati di Setiabudhi soalnya ada 3 motor hanyut. Ada notifikasi sms masuk tapi aku memilih membaca nanti. Jadi aku masukin hape Young ini ke saku luar ransel aku.
Seperti biasa aku turun di sebrang kampus. Banjirnya wuussshhh banget lah. Tapi ku lihat Wiwi -temen sekelasku- berhasil nyebrang disana. Hmm kenapa aku juga ga bisa, mari dicoba aja. Toh ini sudah hampir 13.30 daripada terlambat kena semprot dan ga bisa ikut kuis kan berabe. Lalu huupp aku menerobos nyebrang.
-Saat melangkah kurang ucap Bismillah, saat berdoa dalam keadaan susah payah-
Pas nyebrang setengah jalan aku baru sadar ini deres banget aliran "sungai" dadakannya. Tinggi airnya sampe selutut, debit airnya udah kaya bah -emm- maksudnya mungkin kek banjir bandang kali yah. Dan aku cukup kesulitan karena harus angkat rok sambil megang payung. Ah hampir lupa, karena aku bosan, dimulutku ada lolipop yang lagi dikemut. Aku melewati jalan raya sungai dadakan itu dengan susah payah. Tinggal dua langkah lagi aku naik ke trotoar yang ga ikut tergenang air. Namun sayangnya sandal jepit yang kupakai keselip saat mau melangkah. Sandalku hanyut sebelah. Tapi saat aku melangkah lagi, aku lah yang hanyut berikutnya.
Tell me stupid. Yeah Marya a.k.a Bude ini memang terlalu nekat. Menyebrang sungai pake sandal. Ah daripada nyalahin yang udah berlalu mending balik ke keadaan aku saat itu.
Pas ku lihat sandalku hanyut, aku jadi ingin cepat sampai ke trotoar itu dengan langkah besar. Dan uupppsss aku terpeleset jatuh. Aku tidak jatuh di aspal, tapi digenangan air bah yang menutupi aspal. Dengan mudahnya arus itu membawa tubuh ini yang jatuh dalam posisi duduk. Aku terus terseret. Dalam hitungan kurang dari 3 detik, badanku menabrak mobil yang parkir dipinggir jalan. Ya tubuhku nabrak mobil dong. Kemudian 2 detik berikutnya dunia tidak lagi dalam pandanganku.
Oh bukan, aku belum meninggal. Aku masuk ke kolong mobil yang ku tabrak tadi. Hal itu kusadari saat badan ini ga bisa gerak. Membuka mata tapi air bah itu mengarung deras depan mata, aku dalam keadaan tenggelam dalam kolong mobil, oh really. Ku dengar suara arus menyeramkan yang begitu hebohnya menekan gendang telinga. Aku masih mengemut lollypop, aku tak punya ruang untuk bernapas -ingat kan tadi ku bilang selutut banjirnya dan well aku dikolong mobil- maka aku buang permen itu. Aku menggembungkan pipi berharap bisa menyisakan nafas hingga aku bisa keluar dari mobil ini.
Sudah berapa lama waktu berlalu diluar sana? Adakah yang melihatku? Karena arusnya kebawah, aku ga mempunyai daya untuk melawan arus dan keluar dari kolong ini. Aku mencoba peruntungan lain dengan menyisipkan tubuhku untuk terlentang agar aku terbawa arus melewati mobil ini meskipun dengan resiko aku tertabrak kendaraan lainnya atau hanyut lebih jauh lagi. Ah aku tak tahu pasti. Aku harus mengumpulkan tenaga untuk mengangkat tubuh ini. Tapi entah bagian mana ditubuhku yang tersangkut sehingga rasanya sulit sekali.
"Sudah berapa lama aku berusaha? Aku tak suka gelap. Aku tak suka sempit. Semua ini menghimpitku. Aku tak punya ruang. Aku tak bisa leluasa bernafas. Aku hanya ingin kuliah. Kenapa begitu sulit menyebrang jalan? Mengapa niatku untuk belajar malah jadi seperti ini."
Batinku tak hentinya bertanya, bersuara mengungkapkan apa yang kurasa dan ingin teriak rasanya.
" Tahu begitu dalam 5 detik tadi sebelum aku stuck disini aku teriak yah. Bagaimana jika tak ada yang menyadari. Ah tentu saja siapa yang sadar! Duh bodohnya aku. Apa mau dikata. Nunggu banjir ini reda sampai jam berapa, mungkinkah nafasku cukup?"
Tanganku terus menggapai entah apapun entah kemanapun. Aku hanya ingin mencari titik terang. Titik kepastian. Lalu perdebatan batin mencapai ujungnya.
"Ya Allah entah hamba harus bagaimana. Namun jika memang aku sampai disini, cepat habiskan nafas ini. Tapi kalau lanjut, biarkan seseorang datang." Dan aku menangis dalam hati membaca syahadat. Baru ku tutup syahadat itu, tanganku ada yang menggenggam! Aku dipegang oleh seseorang. Oh bolehkah aku berharap? Benarkah ini tangan manusia? *well saat itu otakku hanya mampu berpikir semanis itu -.- hehe*
Tak lama tangan itu terlepas. Aku mencari. Tak rela tangan itu pergi. Akhirnya genggaman itu datang lagi. Kali ini menarikku dengan sangat kuat. Aku terbebas. Iya bebas. Aku melihat langit biru serta nafasku yang kembali bisa ku hirup.
Aku histeris.
Bisa apa lagi? Aku bahagia masih hidup. Aku bahagia selamat. Aku ketakutan. Aku masih tak menyangka. Aku merasa ini keajaiban. Berapa lama aku terjebak? Mengapa banyak sekali suara hatiku didalam sana.
Pertama kali ku lihat banyak orang mengelilingiku. Berisik. Berbisik. Seorang ibu pun histeris. Laura disampingku menanyakan keadaanku. Ah ada temen sekelasku disini. Senang sekali mendengar suara Ola. Aku menangis. Aku mencari mana kerudung dan tas ku. Tas ransel sama kerudungku ikut hanyut? Ya ampun kerudung. Hape. Dompet. Oke banyak sekali pikiranku. Orang-orang memintaku tenang dan jangan memikirkan itu dulu. Ah lalu mikirin apa. Tanpa Young bagaimana bisa kasih tau orangtuaku dan Jenong dan Puji atau Laras atau pihak kampus. Astaga banyak yang harus tau? Ngomong aja belum nyambung gini.
Mereka bilang aku harus tenang. Aku mending mikirin diri sendiri dulu, gimana keadaannya. Hmm sakit. Sesak. Ngilu. Itulah yang ku rasa tapi belum bisa ngomong ke mereka. Hanya dalam hatiku aja.
Sekilas banyak suara masuk karena mereka asik menceritakan sudut pandang mereka. Yang ku tangkap seperti ini :
1. Seorang ibu dan  anaknya -yang seusia denganku sepertinya- melihatku jatuh saat menyebrang kemudian dia meminta pertolongan orang-orang yang ngumpul di bengkel.
2. Laura a.k.a Ola -temen sekelasku- sudah melihatku menyebrang dan kaget banget aku jatuh terus hilang ditelan air bah itu. Tanpa pikir panjang Ola menyebrang untuk menolongku. Dan dia menangis merasa lebih baik Ola duluan yang mati daripada aku. Ya Allah Ola hatinya mulia banget. Semoga engkau berikan dia kemudahan dalam urusannya (˘ʃƪ˘)
3. Orang bengkel nahan Ola untuk ga nekat nyebrang. Orang-orang itulah yang menarikku dan menggendongku. Meskipun yang aku tahu tangan pertama yang menggenggam tangan aku adalah Ola. *Thanks God, Lopyupul Ola*.
4. Ada beberapa anak sekelasku disana. Anin dan Risa. Meskipun aku ga tau mereka dimananya.
Seseorang memberiku minum agar aku tenang. Yang belakangan ku tahu itu Risa. Tapi dilemma banget disuruh *maaf* muntah saat itu juga. Baru mau tanya kenapa eh ibu -yg tadi histeris- bilang pasti ketelen itu air bahnya. Hah, apah? Omigoooddd saat itu juga aku berharap bisa jakpot. Air apaan itu yang ketelen ┭┮_┭┮ . Ibu itu juga ngajak aku ke kosan anaknya. Aku dijanjiin sama orang bengkel itu untuk dicariin tasnya. Ah iya kerudungku ketemu jadi aku pake asal aja. Aku, Ola, ibu itu dan anaknya ngajak aku jalan dan aku dipapah *engga dimamah yah -.-*
Kosannya nyelip dan dilantai dua. Uh oh aku tau kakiku ga beres saat naik tangga. Huaahh ini pasti ada luka atau keseleo deh. Sesampainya diatas aku diajak masuk dan disuruh mandi. Aku dipinjami baju, celana bahkan daleman :3 Aku ke kamar mandi bawa semua itu dan jalan perlahan.
Baru masuk kamar mandi dan ngunci pintu, Ola ngetuk-ngetuk. Aku keluar dengan ekspresi ada apa. Ola nyengir dan bilang kalau ada apa-apa teriak aja, jangan sampe aku pingsan didalem kamar mandi. Woaahh baiknya Ola, aku pastiin aja aku bakalan baik-baik didalem. Dan proses mandinya dimulai *heleeeh leboy*
Buka baju aja setengah mati. Susah dan lengket dan kotor dan ribet dan sakit. Eaaa banyak gitu dan-nya. Baru sekali guyur aku liat air basuhannya item kelam. Oh God seremnya. Siraman kedua ada bungkus kopi jatuh dari rambutku. Astaga -.- Basuhan ketiga ada daun-daun sama ranting kecil gitu entah darimananya badan aku deh. Ga sanggup liat lagi, aku fokus untuk bebersih. Rambut kusut banget dan keset karena air bah itu. Yang kelihatan di mata sih dengkul ini luka besot dan tangan juga. Kepala pusing banget. Dan sayangnya aku ga berhasil jakpot. Aku buru-buru menyelesaikan bebersih ini.
Keluar dari kamar mandi aku lihat Elvo dan David yang baru naik tangga memberondong pertanyaan banyak banget. Aku ngerasa kayak artis dikejar wartawan tanpa kamera dan mic :p Aku mau bercerita tapi mulut sama otak belum ngeklik jadi aku cuma nyengir miris liat mereka. Masuk ke ruangan aku disuruh telpon orangtua karena luka ini tentu aja harus diperiksa kan. Hadeeuuuhhh aku lupa kartu asuransi belum dibawa. Terus mau kerumah sakit/klinik bayarnya pake apaan? Aku cuma punya -umm- baju kotor yah. Sisanya hanyut, huwaaahh. Ola nyodorin hapenya supaya aku telpon orang rumah. Karena aku anak baik, yang aku inget cuma nomor mama aja -padahal nomor hape papa angka cantik- jadi aku klik dial supaya cepet tersambung. Kalimat pertama untuk ngasih tau nyokap adalah : "Ma, Ulfah kecelakaan." Cumaaaa ngomong gitu aja aku nangis lagi. Alhasil Ola yang ngomong sama emak kronologinya dan aku diwejangin ini itu sambil disuruh ke klinik dan minta kompensasi. Dosen aku juga telpon. Beliau ga nyangka dan nyuruh aku ke dokter aja biar nanti diganti pihak kampus. Iyah, aku harus lekas ke dokter.
-administrasi itu sulit tanpa tau keadaanku jauh lebih sulit-
Aku bersiap dengan tidak rela tidak ikhlas. Aku berterimakasih sangaaat banyak pada Ester dan Ibunya -aku baru tau nama ibu itu dan anaknya- karena telah menolongku, melihatku dan meminjami baju segala. Tapiiii baju lengan pendek dan celana pendek. Uh oh like a crispy joke. Budeee mana kerudungmu, manaaa huaaahhhh.
Aku masih limbung. Yang aku tahu Ola, Elvo, David dan Agung ada disana saat aku turun dari kosan Ester. Entah ini uang siapa, aku menggenggam 100 ribu dalam tanganku untuk berobat. Aku diantar Agung naik motor karena klinik terdekat hanya berjarak kurang dari 1 kilometer. Aku sampe disana dengan kondisi sulit berjalan.
Aku langsung menghampiri frontliner Klinik AN (AN itu singkatan, dan jangan tanya kepanjangannya apa, ceritanya disamarkan) yang dijaga perempuan hijab. Aku menjelaskan aku habis kecelakaan sehingga ga ada kartu apapun dalam peganganku. Ditambah kartu asuransiku ganti dari IH ke AdM (disamarkan, okeeyy). Mereka bilang kartu asuransi AdM itu kayak kartu kredit jadi diperlukan juga kehadiran kartunya. Huh aku hanya ingin segera ditangani, bayar aja juga ga masalah. Kepala ini rasanya berat. Aku mengiyakan saat mereka menawariku untuk cash lalu aku disuruh menunggu sampai dipanggil giliranku.
Lama.
Iya aku lamaaa sekali menunggu. Aku meminjam hape Agung untuk sms Mama dan Jenong alias Fajar. Khusus untuk Jenong kalau dia ga kuliah kuminta untuk datang. Ternyata mama ngasih nomor Agung ke papa. Aku hanya mendengar kalimat yang sama : "Kok bisa?" . Mama juga tadi pas pertama kali ku telpon bilang kek gitu. Aku mana tahu kenapa, yang ku tahu itu semua sudah terjadi *sigh*.
Aku berkali-kali marahin Agung karena mbaknya ga kunjung manggil aku. Bahkan ada seorang bapak yang luka baru datang langsung masuk. Aku setengah terisak bilang ke Agung : "Gue juga kecelakaan gung, kok ga diduluin. Kepala gue harus luka dulu yah?". Hufft mau bagaimana lagi. Luka yang terlihat dariku hanya lecet kecil tangan dan kaki serta luka cukup besar di dengkul. Hanya saja kepalaku pusing sekali. Agung bilang karena aku menelan banyak air tapi belum jakpot dan teori lainnya yang hanya masuk selintas dalam otakku. Aku ingin segera mengakhiri semua ini lalu tidur. Aku rasa tidur pilihan tepat untuk beristirahat.
Aku ga nyaman. Rasanya seperti tak pakai baju. Hemmm aku memang pakai baju tapi lengan pendek. Aku pakai celana tapi celana pendek.  Aku sudah tak ingat lagi kapan aku memakai baju setelan kek gini untuk keluar rumah. Punya celana pendek kayak gini aja kagak. Aku mau pinjem jas Agung tapi katanya udah lama belom dicuci. Aaaakkkkk.
Setelah lumutan dan tumbuh jamur dikepalaku barulah aku masuk. Agung yang kuminta nemenin juga masuk. Aku bilang ke dokternya ini itu. Dia kaget. Tidak percaya. Dan aku dibawanya keruang pembedahan atau apapun itulah yah. Agung kusuruh tunggu diluar. Ya kali dia mau liat aku "dibedah". Dokternya bilang sesuatu yang menyesak dihati. "Duh tau kamu kecelakaan mah langsung masuk aja. Udah parah gini juga. Haduh liat ini punggung kamu biru semua, memar. Lukanya dibersihin dulu yah." Dalam hati yang paling jujur aku udah membela diri dengan bilang "Gue juga bilang sama orang yang jaga didepan tapi entah ditulikan telinganya atau disangkanya gue nipu kali makanya gue nunggu sampe jamuran!" Huhuhu, miris yah administrasinya. Ohya gimana ni badan kaga lebam, kepentok mobil dan terombang ambing disungai dadakan itu.
Selesai meriksa ini dan itu dan eta dan ieu maka diwejanginlah aku sama berbagai hal. Dari do and don't juga obat-obat yang akan dikasih. Diusahakan jakpot. Yah, iyah, yah well mau berapa lama air kotor ini ku pendem diperut (╥﹏╥)
Aku dapat cobaan berikutnya. Uang cashnya ga sebanding sama tagihannya. Untuk sekedar bersihin luka pake alkohol dan diwejangin itu aku habis 150ribu. Untuk di alkoholin luka aja 50 ribu. Tau gitu bersihin sendiri deh, huwaaahhh. Jadi kutangguhkan aja obatnya. Agung sibuk sms minjem uang. Aku tanya Jenong bawa uang apa engga karena aku akan minjem dia. Syukurnya dia bawa tapi dia terjebak macet. Aku sempet menyerah pinjem jas Agung karena ini sungguh risih pakaiannya. Untunglah Fajar datang dan aku pinjem jaket dia. Wajahnya lega meskipun sedih jelas kelihatan dimatanya. Fajar ngusap wajahku pelan tanpa ngomong apa-apa. Aku tahu aku pasti bikin khawatir. Aku selesaikan pembayaran dan nunggu temen sekelas aku datang karena mereka telpon katanya mau ke klinik nyusul.
Entah siapa aja yang nyusul tapi rusuhnya ampuuun dah sampe ditegor satpam. Tadi sih pas telpon, Wiwi yang ngomong sama aku. Katanya Laras sewot gegara aku nekat. Lucunya Una bilang didepan kampus ada yang larut bukannya bilang hanyut. Anak-anak yang denger tadinya ketawa ngakak tapi pas dikabarin bahwa makhluk yang larut itu adalah aku maka tawa itu lenyap. Bahkan dosen killer yang ga ada tolerirnya pun memberi dispensasi untukku dan mengadakan doa bersama. God, terharu banget-banget aku. Aku punya banyak orang yang sayang dan peduli sama aku.
Aku pulang naik mobil Mami. Mami, Aku, Fajar, Ola dan entah siapa lagi aku ga merhatiin bertolak ke kosan. Bahkan sesampainya dikamar aku masih belum tahu siapa aja yang berada disana nemenin aku. Aku diberitahu kalau tas ranselku ketemu. Aku bersyukur. Karena dompet aku pasti selamat, ku taruh dompet itu di dalam dan direstleting. Beda dengan Young. Entah dia masih didalam tas atau merangsek keluar. Sedih rasanya. Tapi sedih itu tenggelam dalam rasa sakit seluruh badan ini.
-Akhirnyaaaa, tapi belum berakhir-
Aku dipaksa makan entah makan apa dan entah saat kapan. Setelahnya aku minum obat dan jakpot. Horeeee! Sepertinya agak enteng badan ini. Aku sakit kepala hebat. Sayangnya malam itu Fajar dan yang lain pulang. Aku mengurusi pilek air wabah itu semaleman. Tissue dimana-mana. Ini bukan pilek biasa pastinya. Aku harus sesegera mungkin berobat. Dan ingatanku campur aduk ga bisa mengurutkan mana yang lebih dulu atau terjadi belakangan.
Aku mendapati Fajar dan Wiwi yang rutin datang. Sementara waktu aku pakai nomor three dengan hape pinjeman. Makasih Arya udah minjemin. Wiwi marah karena orang penjual nasi Padang yang nyimpen tas aku enggan ngasih tas aku. Kabar baiknya hapeku masih ada di tas itu. Heran sih sebenernya. Padahal berpeluang nyeplos dan hanyut itu Young. Ah kau memang setia menemani Young meskipun kita sekarang jauhan :( *oke mulai leboy*
Adik kelasku juga datang, dia di BBM mommy coba buat liatin keadaan aku. Huuufff, muka Fajar seketika itu keruh. Belum lagi dia, dan wiwi dalam waktu yang berbeda sepertinya ribut sama orang nasi padang itu untuk ngambil tas. Yang ku tangkap adalah aku harus kesana ngambil. Oh yeah, if I can lah yah. Bangun dari kasur aja lieng-lieng. Dan adik kelas itu datang lagi setelah aku diminta mommy untuk pijit. Dia diutus untuk memastikan aku udah pijit apa belom, misalkan belum mau dianter, hmmmm -.- Lagi-lagi aku ga enak sama Jenong. Dia udah sabar banget nemenin aku pijit. Padahal lumayan lama dan aku hampir nangis karena sakiiitttt *bersiap terisak*.
-aku punya pacar terbaik dengan kasih sayang paling unik-
Selama aku sakit, Jenong siap jagain dan perhatiin aku. Dia beliin makanan yang aku suka, karena aku nolak makan dengan alasan ga enak dan rasanya pait. Bagaimana mungkin aku nolak makanan yang sehari-harinya aku kagumi. Hahaha lebay banget bude -.- Beberapa kali dia buru-buru abisin makanan untuk suapin aku. Aku juga dikompresin badannya sama dia buat nurunin panas yang terus-terusan naik. Bahkan di setengah ngantuknya pun dia mau ngusap-ngusap aku yang ga bisa tidur nyenyak.
Yang paling aku syukuri dari semua ini dia mencoba tenang. Aku tahu dia khawatir. Itu jelas dari ucapannya yang bilang “Kamu jangan sakit dong Ma, cepet sembuh lagi”. Aku ga enak hati untuk ngomong apa yang saat itu aku rasain. Lemes tak terkira aja pokoknya. Malahan dari aku jatuh, aku terus-terusan pilek dengan warna kelam. Yah, air wabah itu kali yah mengendap dihidung *uh berikan aku udara bersih* Yang pada akhirnya aku mimisan terus. Sekali waktu Jenong tau aku mimisan karena aku anteng duduk ambang pintu kamar mandi. Dia bawain aku tissue dan duduk disamping aku padahal tadinya aku yakin dia tiduran kelelahan abis kuliah ditambah rawat aku juga.
Sekali lagi kata-katanya muncul : “Kamu sehat dong sayang”, saat itu juga aku cuma bisa diem. Dulu pernah dia bilang mending pindahin ke dia aja sakitnya. Hueeeehhh, aku jadi sedih.
-next miss understanding here-
Sepertinya yang ku lakukan berikutnya adalah mengambil kartu asuransi yang dititipkan ke Sammy, temen sepupuku yang juga temen kampus beda prodi denganku. Selesai ambil kartu itu aku diantar Jenong ke klinik AN lagi. Malang nasibku aku harus menceritakan ulang ke dokter kronologinya. Soalnya dokternya beda lagi, dan dokter inilah yang sering memeriksaku selain dokter Nurul. Namanya dokter Yayuk. Aku dianjurkan ke rumah sakit Ad untuk rontgen kepala. Dibuatlah surat pengantar ke RS tersebut.
Apa mau dikata Jenong punya urusan lain dikampusnya jadi aku ke RS itu sendiri dan bawa 50 ribu. Sebenarnya itu sudah sore menjelang senja, dan aku datang sendirian tanpa tau harus kemana. Aku tanya ke satpam harus kemana, eh dia malah tanya balik. “Emang yang sakit siapa?” Dengan reflek aku nunjuk diri sendiri. Biar deh mau ngomong apa itu satpam. Aku ke tempat pendaftaran dengan kisah klasik (maksudnya kronologi kisah hanyutnya) yang harus ku jelaskan.
Aku harus buat kartu rumah sakit dulu berdasarkan ktp atau tanda pengenal. Biasanya aku suka, karena aku senang punya kartu atas namaku, ga peduli walau itu kartu RS atau sekedar kartu anti narkoba. Tapi kali ini aku hanya punya kartu asuransi dan surat pengantar rontgen. Aku merasa tenggorokanku seret seketika pas bapak adminnya nanya, aku masih inget nama dan orangtua aku kan. Memangnya air wabah yang sempet ketelen itu bisa bikin aku amnesia? Aku ngisi biodata dengan kecut. Kapan ini akan berakhir? Lalu miss understanding disinilah yang paling parah. Katanya aku harus dipastiin dulu perlu rontgen apa engga, jadi aku harus ke UGD buat meriksanya. Soalnya ga bisa langsung rontgen tanpa pengantar dokter. Lah itu surat yang aku bawa disangka surat cinta kali yah, huhuhu.
Masih dengan sisa tenaga yang aku punya, aku ke UDGnya. Nyari ruangan sendiri. Nyari dokternya sendiri. Ke kasur untuk tunggu dokter atau susternya juga sendirian. Hikss. Lalu dokter itu datang, siap dengerin kisah klasik dariku. Yang aku bisa pastiin 199% dia ga percaya dan menganggap aku berimajinasi aja. Ditambah kondisiku yang panas tinggi. Dia pasti sangka aku berkhayal saking panasnya tubuhku. Aku hanya diam. Itulah kesalahanku, aku hanya diam. Meskipun terucap juga ke dokter itu aku datang disuruh rontgen padahal. Dokter saranin aku untuk cek darah. Aku iyain aja deh daripada repot. Suster datang, ambil darah, lalu aku disuruh nunggu.
Menunggu adalah hal yang kurang menyenangkan.
Setuju tidak pernyataanku tentang menunggu? Aku harus tergeletak lemah. Mendengar sebelah entah kanan kiri atau depan yang lagi sakit, ada yang kecelakaan dan dapat perhatian intens dari si dokter (bikin aku iri dan ngenes, soalnya aku merasa diabaikan), ada yang stroke, ada yang sakit entah apa tapi dia bisa telponan dengan saudaranya. Suara kerabat atau keluarga yang khawatir dan menemani si sakit itu. Ah ruangan aku berada sepi. Tidak ada satupun orang. Sinyal hapeku drop. Sms ga bisa, nelpon apalagi. Aku mau ditemenin padahal. Minimal sms¬ sedih rasanya sendiri. Mana ga lama aku mimisan. Jadi aku hambat pake tangan, beranjak keluar dan tanya suster dimana kamar mandi. Setelah ditunjukin aku hanya membersihkan diri. Suster itu tanya aku habis apa dan aku bilang mimisan. Dan you know what, mereka lanjut ngerumpi lagi, tanpa ada satupun yang memapahku. Bukannya minta atau kepengen sih. Tapi apa pantas?
Setelah lama menunggu, dokter masuk dan bilang aku tipes. Hah, aku ga salah denger tuh? Oh oke, mungkin kondisiku lemah dan membuatku kena tipes. Tapi peliiissshh deh, aku Cuma mau periksa kepalaku untuk di rontgen. Kayaknya denger dokter ngomong tipes, perlakuannya yang cuek, dan suster yang ngerumpi, aku bertanya apakah otakku masih sehat. Hatiku mungkin perlu juga di rontgen. Aaakkkkkk. Dokter minta aku untuk ke tempat pendaftaran tadi untuk melakukan registrasi rawat inap. Aku makin melongo. Niatnya mau apa, eh disuruhnya apa.
Lagi lagi aku jalan ke tempat bapak yang tadi, sendirian, langkah semakin gontai, lelah dengan semuanya. Bapak itu bersikeras untuk aku di rawat. Aku hanya menggeleng. Untuk apa? Toh kalaupun aku tipes, apa iya aku ga sakit hati setelah semua ini. Dan pertimbanganku selanjutnya, apa mampu aku bayar. Ini aja aku kena selisih entah apa jadi aku bayar 50ribu yang artinya aku ga megang uang satu sen pun lagi. Berikutnya, apa ada yang bakal nemenin. Sakit sendirian itu menyedihkan. Aku ga mungkin ganggu temen dan jenong karena kuliah masih berlangsung dan aku ga mau manja.
Aku memelas minta pulang. Aku akan ambil obat yang harus aku ambil. Aku dikasih surat untuk ijin sekolah 4 hari. Oh god, itu namanya aku libur sampe jumat yang bisa diperjelas lagi bahwa aku ga masuk seminggu. Ah ampuuuun. Jumat itu kan si dosen killer. Aku kan harus masuk, kalau ga ikut kuis mending aku keluar kelas karena percuma ga akan dilulusin beliau. Bapak itu maksa aku istirahat atau piihannya aku dirawat. Dia bilang tipes itu begini begitu. Astagaaaa. Aku udah sakit pake diancem, ditakut-takutin pula. Hih, sedih!
Aku pulang, sebelumnya aku telpon siapapun yang bisa jemput. Uangku habis tak bersisa. Tak peduli mau makan apa untuk minum obat ini, aku hanya mau pulang. Dari banyak orang yang ku telpon, hanya Farrel yang bisa dan bersedia. Thanks God, You save me with him. Aku nunggu Farrel dengan gelisah. Dingin menusuk, habis gerimis disini. Tak lama dia datang dan aku menjawab sekenanya dan seperlunya serta memberinya surat sakitku.
-Simpelnya, dia hanya mau berniat baik-
Aku udah bisa beraktivitas lagi dan kuliah kayak biasanya. Aku memutuskan ke rumah makan padang itu bareng Elvo sama Wiwi. Aku disambut dengan tatatpan yang kurang ramah. Seorang bapak keluar bawa tasku. Lusuh. Kumel. Itulah bentuknya sekarang. Salah satu talinya putus, wajar dia terlepas dari gamblokku saat hanyut. Bapak itu menjelaskan panjang lebar tanpa jeda. “Saya ga minta apa-apa tapi neng ini (nunjuk wiwi) kan yah dateng-dateng nanya tas sama hape. Mana saya tahu di tas itu ada semua itu. Belum lagi ada cowok (si adik kelas itu) datang malam-malam bawa massa minta tas. Saya Cuma mau tau gimana keadaan neng. Ga bermaksud apa-apa. Tapi ditodong kayak gitu siapa juga yang ga kesel.” Aku lihat wiwi raut ekspresinya berubah. Jelas dia emosi saat itu. Aku hanya bisa diam. Mereka perhatian sama aku, bahkan Fajar juga tadinya mau ikut campur. Belum lagi aku juga rewel tentang Young.
Aku periksa semuanya. Masih lengkap. Berbau. Berlumur lumpur tanah dan sampah. Aku memilih membongkarnya setelah keluar dari warung padang ini. Aku dan yang lain memilih duduk depan indomaret. Benar saja, wiwi meluap, dia kesal, dia mau menangis. Aku menenangkannya. Aku mau berterimakasih padanya. Makasih banyak wiw. Untunglah Elvo bisa menenangkannya. Aku mengecek tas setelah situasi mereda. Heelsku hancur, kerendem ga dijemur dan tertutup, aaaahhhh baunya kubenci. Itu bau air wabah. Aku pusing. Young tewas. Aku harus ke SSC ini sih. Dan diompetku, iiuuuh. Aku hanya ambil beberapa kartu dan merelakan foto hancur, mengambil beberapa rupiah yang tersisa. Case hari ini selesai. Dia hanya mau berbuat baik kan?
-Membetulkan Young, gadget yang ku anggap teman setia-
Aku punya satu masalah lagi. Young mati, dia harus ke SSC. Daripada nyusun skenario biar dapet asuransi yang masih dimiliki Young, mending jujur dia abis berenang disungai dan minta dibetulin. Aku ke SSC sama Jenong. Kulihat Young dibongkar, disetrum, dibersihin. Aku diminta tunggu satu jam. Ah mending jalan-jalan dulu sama Jenong. Sekalian pan, mumpung diluar hehe. Kita makan siang sama-sama dan dia kelihatannya seneng aku udah kayak biasanya. Meskipun sekarang aku berubah, memilih ga kuliah kalau hujan deras, dan ga suka sama bunyi air yang mengalir deras serta bau air wabah itu.
Kita balik ke SSC setelah satu jam kemudian. Aku lihat young nyala. Bersih. Tanpa aplikasi. Tanpa SD Card (karena itu satu-satunya yang hilang, mungkin diambil orang padang itu, yakali sd card copot sendiri, apalagi young pake pelindung). Tanpa gallery. Tanpa sms yang di save. Aku merengek kecil ke Fajar dengan muka yang aku yakini engga banget. Dia ketawa liiat aku kayak gitu. Dia usap kepala aku dan bilang “Tenang aja Ma, nanti kita foto-foto lagi. Aku sms lagi yang kamu save-in.” Aku ngesave banyak loh, dari tahun 2011 padahal, hueeehhh. Jenong ajak aku ke bawah (SSC di lantai 3 kalau ga salah), beli SD card. Sedangkan untuk headset aku dipinjaminnya. Sekali lagi, aku bersyukur punya semua ini. Punya pacar yang dan gadget yang sama-sama setia. Buktinya kita sama-sama restart, aku dari pola pikirku yang mungkin suka menyepelekan detik yang berlalu tanpa tahu betapa berharga tiap detiknya. Dan young, dari syoknya berenang dan sekarang bersih lagi.
-Kini, 10 Februari 2013-
Hari ini juga sama. Tampak cerah namun siangnya hujan. Aku lagi beli makan kehujanan. Ngeliat jam tenyata pukul 13.12. Ah sudah setahun yang lalu. Ku lihat beberapa hal ternyata masih sama. Di cihampelas jalanannya jadi sungai. Beberapa tempat di Bandung banjir. Dan semoga ga ada korban jiwa atau korban dadakan seperti aku (˘ʃƪ˘) Semoga hujan hanya membasahi tanah yang kering, tidak membanjirkannya. Menenangkan hati yang gelisah, bukan mengacaukannya. Karena selama yang ku tahu, hujan itu berkah. Hujan itu anugrah. Serta petir yang daritadi menyalak, seseungguhnya sedang bertakbir menyebut nama-Nya. Keep save our earth with a lot of loves and cares.

Ini foto bon RS dan mobil yang ku tempati kolongnya tahun lalu